JAKARTA - Bukan karena tidak cinta dengan produksi buatan negeri sendiri, tapi sedikitnya referensi film yang bisa jadi inspirasi membuat Vino G Bastian lebih memilih film karya bangsa lain.
"Film-film yang bagus di Indonesia menurut gue yang buat produser dan director-nya itu-itu saja. Banyak orang yang mencoba terjun ke film, tapi mereka tidak melihat kualitasnya. Malah lebih mikirin keuntungan yang kelak didapat dari film tersebut," ujar Vino yang ditemui di Pejaten Village, Jakarta Selatan, Sabtu (4/9/2010).
Menurut anak dari penulis silat Wiro Sableng, Bastian Tito itu, yang dijual dari film bukan hanya pemain, tetapi ide ceritanya.
"Paling tidak begini, kita bikin film murah tidak apa-apa. Tapi jangan murahan, dalam arti dari ide ceritanya, paling tidak punya sesuatu yang dijual," cetus pemain film Satu Jam Saja itu.
Cowok yang tenar lewat film 30 Hari Mencari Cinta itu setiap mendapat tawaran bermain film selalu serius. Dia selalu melakukan observasi terlebih dahulu agar aktingnya baik.
"Dalam film ini, saya dapat karakter yang introvert, peran yang berbeda dari sebelumnya. Untuk mendalaminya, saya banyak diskusi dengan om Rano Karno. Selain itu juga menonton beberapa film untuk referensi," ucapnya.
Biarpun sudah sering beradegan dalam film, rupanya Vino dalam film ini banyak mengalami kesulitan.
"Sulitnya momen-momen silent action, kita tidak banyak dialog, tapi kita harus lebih merasakan dan pesannya sampai. Karena dengan tidak banyak omong, tapi harus tetap dimengerti," jelas Vino.(fie)
(ang)
Celebrity Okezone menghadirkan berita terbaru, eksklusif, dan terpercaya seputar artis dalam dan luar negeri