Sementara, Bachtiar Nasir menilai Bocelli memiliki rekam jejak kamanusiaan dalam membela kemerdekaan dan menyuarakan penjajahan Israel terhadap Palestina. Menurutnya, tidak ada ungkapan secara langsung dari Bocelli bahwa dirinya berpihak kepada hal tersebut secara adil.
"Kita ketahui bersama, sampai hari ini tidak ada pernyataan dari Bocelli langsung bahwa ia betul-betul berpihak kepada kemanusiaan secara adil, yang kami dapati tentu tidak berimbang. Kalaupun ada penyataan, hanya dari pihak penyelenggara. Tidak ada penyataan langsung dari Bocelli sebelum diselenggarakannya konser," tuturnya.
Oleh karena itu, Bachtiar Nasir menduga, konser Bocelli yang digelar di Indonesia bukanlah konser biasa. Ia menduga adanya agenda tersendiri yang dibawa ke Indonesia, mengingat konser tersebut digelar di beberapa situs besar di dunia. Seperti Candi Borobudur di Indonesia, Petra di Yordania, dan Dubai pada Desember mendatang.
“Sebuah rangkaian yang kelihatannya memang memiliki agenda besar sebagai seseorang yang dikenal sangat pro kepada Zionis Israel,” ujarnya.
Sementara itu, Aktivis Kemanusiaan, Muhammad Husein atau dikenal dengan Husein Gaza, mengungkapkan berbagai rekam jejak dari Bocelli yang diduga pro terhadap Israel. Bahkan, ia menduga Bocelli merupakan kontributor utama dari IDF.
“Kalau kita menarik tahun 2010, kita bayangkan, kita berada di atas panggung itu, dalam suasana di mana malam itu Bocelli berhasil mengumpulkan USD9 juta, bernilai Rp170 miliar. Kita bayangkan, hari itu, ketika diumumkan 'Friends of IDF', mendapatkan 9 juta dari acara ini. Masyarakat, Bocelli, dan juga audiens hari itu bertepuk tangan secara penuh, secara sadar bahwa uang itu akan digunakan untuk membantai anak Gaza,” jelasnya.