Drama Doctor X Tuai Protes Keras, Dianggap Gagal Tampilkan Dunia Kedokteran Secara Akurat

Mei Sada Sirait, Jurnalis
Minggu 18 Oktober 2026 09:30 WIB
Drama Doctor X Tuai Protes Keras, Dianggap Gagal Tampilkan Dunia Kedokteran Secara Akurat. (Foto: SBS)
Share :

 SEOUL - Series terbaru SBS, Doctor X: The Era of the White Mafia sukses mencuri perhatian penikmat drama Korea. Baru tayang 4 episode, drama tersebut berhasil membukukan rating tertinggi sebesar 18,5 persen.

Di tengah performa digdaya tersebut, drama arahan Lee Jung Rim itu justru diprotes seorang dokter spesialis bedah ortopedi berinisial ‘A’. Dia bahkan melayangkan petisi agar SBS meninjau ulang penayangan drama itu.

‘A’ dalam petisinya mengatakan, Doctor X: The Era of the White Mafia tidak menggambarkan secara akurat dunia kedokteran Korea Selatan, baik itu dari sisi tenaga medis maupun prosedur penanganan pasien. 

Hal itu, menurut ‘A’, dikhawatirkan bisa membentuk persepsi keliru pada penonton dan masyarakat. Mengutip Yonhap News, permohonan peninjauan ulang penayangan drama tersebut didaftarkan ‘A’, pada 13 Oktober 2026. 

Dokter tersebut mengkritik bagaimana sutradara Lee Jung Rim menggambarkan rounds alias kunjungan dokter untuk memeriksa kondisi pasien berulang kali digambarkan sebagai pekerjaan administratif yang tidak perlu. 

Selain itu, ‘A’ menilai tenaga medis terlalu disederhanakan sebagai karakter antagonis yang tidak kompeten. Ia juga menyoroti penggambaran prosedur medis yang dinilai mengabaikan ketidakpastian dalam praktik kedokteran.

Menurutnya, dramatisasi memang menjadi bagian dari sebuah karya fiksi. Namun, penggambaran yang dianggap terlalu jauh dari kenyataan dikhawatirkan membuat penonton memiliki pemahaman keliru pada dunia medis. 

Kritik terhadap Doctor X tidak hanya berkaitan dengan karakter dokter yang ditampilkan dalam cerita. Sejumlah adegan penanganan pasien juga dipertanyakan karena dinilai tidak sesuai dengan praktik medis yang sebenarnya.

Beberapa adegan yang menjadi sorotan meliputi proses penanganan pasien hernia inguinalis yang diarahkan ke operasi darurat, penanganan pasien kritis dengan tekanan darah tak dapat diukur, hingga penggunaan kejut listrik sebesar 300 joule pada pasien henti jantung.

Adegan-adegan tersebut memicu perdebatan mengenai sejauh mana drama medis dapat didramatisir tanpa mengabaikan ketepatan prosedur yang ditampilkan. Meski demikian, kritik tersebut merupakan penilaian dari sejumlah pihak di kalangan medis.

 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Celebrity lainnya