Menurutnya, manipulasi AI sangat sulit menyamai detail biologis dan pencahayaan manusia yang alami, mulai dari pantulan retina mata, kerutan ekspresi, hingga posisi tahi lalat pada tubuh seseorang.
"Banyak sekali yang namanya AI itu hanya memberikan tayangan yang kelihatannya bagus. Tetapi realita yang jarang dipenuhi AI misalnya kedalaman (depth of field), bayangan mata, hingga konsistensi tahi lalat. Kalau dia menengok, bisa jadi posisi tahi lalat itu bergeser. Nah, itu semua dilihat," jelasnya.
Meski demikian, Abimanyu menegaskan bahwa penilaian kasat mata tersebut masih membutuhkan uji laboratorium digital forensik guna menyinkronkan antara visual dan audio (audible).
"Sekali lagi kalau secara kasat mata melihat dari ujung ke ujung, belum kelihatan adanya faktor AI di situ. Tinggal tunggu satu dua malam lagi untuk saya jadikan statement hukum setelah diperiksa secara digital agar lebih kuat," pungkasnya.
(kha)