Konten Kreator Hadapi Tekanan AI, Peran Manusia Mulai Bergeser?

Khafid Mardiyansyah, Jurnalis
Rabu 16 September 2026 19:24 WIB
Moch Dzikry Nur Alam
Share :

JAKARTA – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) mulai mengubah cara kerja industri konten digital di Indonesia. Sejumlah pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam, mulai dari membuat draf tulisan hingga merangkum data, kini dapat dilakukan dalam hitungan menit dengan bantuan teknologi otomatis.

Perubahan tersebut menjadi tantangan bagi konten kreator maupun pekerja di industri digital. Kemampuan teknis seperti menulis, mengolah data, dan memproduksi materi konten dinilai tidak lagi cukup menjadi pembeda ketika teknologi dapat melakukan pekerjaan serupa dengan lebih cepat.

Penggiat optimasi mesin pencari asal Surabaya, Moch Dzikry Nur Alam, melihat perubahan tersebut sebagai pergeseran peran manusia dalam industri digital. Menurut dia, tantangan terbesar bukan sekadar bagaimana menggunakan AI, tetapi menentukan bagian pekerjaan yang tetap membutuhkan penilaian manusia.

Pandangan itu sebelumnya ia uji dalam kompetisi Digital Leadership Challenge yang digelar Universitas Atma Jaya. Pada babak 20 besar, peserta mendapat studi kasus mengenai agensi digital yang mulai menghadapi persaingan dari teknologi AI.

Studi kasus tersebut memiliki keterkaitan dengan pekerjaan yang selama ini digeluti Dzikry. Analisis yang dilakukan timnya mengantarkan mereka ke babak final hingga akhirnya meraih posisi juara II.

Menurut Dzikry, menghadapi AI dengan cara menolak teknologi bukan menjadi solusi. Teknologi tersebut justru dapat ditempatkan sebagai bagian dari proses kerja, sementara manusia tetap memegang peran dalam memahami konteks dan menentukan keputusan.

“Mesin bisa menulis cepat, tapi tidak tahu pembelinya siapa dan masalah tokonya apa. Bagian itu masih harus dikerjakan orang, dan justru di situ nilainya sekarang,” ujar Dzikry.

Konten Tak Lagi Sekadar Soal Produksi

Dzikry menilai perubahan tersebut turut memengaruhi cara konten kreator dan penyedia jasa digital melihat pekerjaannya.

Selama ini, pekerjaan digital kerap ditawarkan berdasarkan jumlah produksi, seperti berapa banyak artikel atau materi yang dapat dibuat dalam satu bulan. Menurut dia, pola tersebut semakin mudah ditiru ketika AI mampu menghasilkan konten dalam waktu singkat.

Karena itu, nilai pekerjaan manusia dinilai mulai bergeser dari sekadar kemampuan memproduksi konten menjadi kemampuan menentukan apakah sebuah materi memang relevan dan layak digunakan.

“Yang berubah bukan pekerjaannya hilang, tapi bagian yang dibayar orang bergeser. Dulu dibayar karena bisa menulis, sekarang dibayar karena tahu mana yang layak dipakai,” katanya.

Dalam kondisi tersebut, konten kreator dituntut tidak hanya mampu menghasilkan materi, tetapi juga memahami audiens, membaca persoalan, menentukan sudut pandang, serta melakukan pengecekan terhadap informasi yang dihasilkan teknologi.

Ketelitian Jadi Tantangan di Tengah Kecepatan AI

Menurut Dzikry, salah satu kemampuan yang tetap penting di tengah perkembangan AI adalah ketelitian. Teknologi dapat mempercepat proses produksi, tetapi hasilnya tetap membutuhkan pemeriksaan sebelum digunakan.

Ia mengaitkan kemampuan tersebut dengan pengalamannya menulis laporan lapangan. Dalam pekerjaan tersebut, satu informasi perlu dicocokkan dengan keterangan lain sebelum dipublikasikan.

“Kalau semua orang pakai alat yang sama, yang membedakan tinggal ketelitiannya. Itu tidak bisa dipercepat,” imbuhnya.

Dzikry menilai perkembangan AI tidak serta-merta membuat profesi di bidang konten dan jasa digital hilang. Namun, jenis pekerjaan yang dilakukan manusia kemungkinan terus berubah.

Pekerjaan yang bersifat berulang dan teknis diperkirakan semakin banyak dibantu perangkat otomatis. Sementara itu, manusia akan lebih dituntut berada pada tahap pengambilan keputusan, menilai kualitas, memahami konteks, dan melakukan pengecekan ulang.

Dengan perubahan tersebut, tantangan bagi konten kreator bukan hanya mengejar kemampuan teknologi dalam menghasilkan konten, tetapi menemukan nilai yang tidak mudah digantikan oleh otomatisasi. Kemampuan menganalisis persoalan dan menjaga kualitas hasil menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan industri digital.
 

(kha)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Celebrity lainnya