Melalui pengalaman tampil di dua kota dengan karakter audiens dan ekosistem musik yang berbeda, para finalis diharapkan memperoleh pengalaman panggung yang lebih luas, memperkuat kapasitas profesional, memperluas jejaring dengan komunitas dan pelaku industri musik, serta meningkatkan eksposur karya mereka kepada publik.
Program tersebut juga diarahkan tidak hanya untuk menemukan talenta baru, tetapi turut mendampingi proses pengembangan mereka agar mampu bersaing di ekosistem musik Indonesia.
Salah satu finalis, Drewgon, musisi asal Maluku Tenggara, mengaku program tersebut memberinya kesempatan yang sebelumnya sulit dijangkau.
"Sebelumnya aku tidak pernah membayangkan bisa melalui proses yang selengkap ini. Mulai dari mendapatkan insight baru di mentoring session, diberi kesempatan mengembangkan karya dengan mengeksplorasi arsip-arsip musik Lokananta lalu merekamnya di Studio Lokananta, hingga berkesempatan tampil dalam tur di dua kota. Semua itu membuka kesempatan yang sebelumnya terasa sangat jauh. BML membuatku merasa memiliki ruang, akses, dan kesempatan yang sama untuk berkembang," ujar Drewgon.
Hal serupa disampaikan personel BeverlyLine, Manggar. Menurutnya, sesi mentoring menjadi pengalaman yang paling berkesan karena memberikan perspektif baru dalam proses berkarya.
"Sesi mentoring menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi kami. Dari sana kami mendapat banyak perspektif baru tentang bagaimana karya bisa lebih dekat dengan pendengarnya. Insight tersebut akhirnya mendorong kami untuk pertama kalinya merekam lagu berbahasa Indonesia. Itu menjadi langkah baru yang mungkin tidak akan kami ambil jika tidak mengikuti rangkaian mentoring di Bintang Muda Lokananta Vol. 2," kata Manggar.