“Aku bilang, ‘Abang, Mama sama Papa kalau nggak bisa bareng lagi gimana?’,” tanya Karen pada sang putra.
“Dia bilang, ‘Nggak apa-apa Mah. Daripada Mama sedih terus, disakitin terus. Kalau itu bisa bikin Mama bahagia, Papa bahagia, nggak apa-apa kok Mah’,” tutur Karen.
Mendengar ucapan sang anak, Karen mengaku semakin terpukul karena merasa konflik rumah tangganya turut berdampak pada mental anak-anak mereka. Ia merasa pengalaman pahit ini cukup menimpa dirinya, dan jangan sampai berpengaruh pada kesehatan mental ketiga anaknya.
“Cukup mental aku yang bikin kamu hancur, jangan anak-anak aku,” ujar Karen menahan tangis.
(kha)