JAKARTA - Indonesia dikenal sebagai negara maritim dengan wilayah perairan yang luas dan garis pantai yang panjang. Di balik kekayaan lautnya, tersimpan pula berbagai kisah mistis yang hidup dan dipercaya oleh masyarakat pesisir.
Jika Pantai Selatan Jawa lekat dengan sosok Nyi Roro Kidul, maka Pantai Utara Jawa juga memiliki legenda penguasa laut yang tak kalah kuat, yakni Dewi Lanjar, sosok yang diyakini sebagai ratu laut utara.
Pantai Utara Jawa atau Pantura merupakan jalur pesisir strategis yang membentang dari Banten hingga Surabaya. Sejak masa kerajaan Hindu-Buddha hingga Majapahit, kawasan ini telah menjadi pusat perdagangan maritim Nusantara.
Peran Pantura semakin penting di era kolonial sebagai jalur ekonomi dan militer, hingga kini menjadi tulang punggung distribusi logistik Pulau Jawa. Namun bagi masyarakat pesisir, Pantura tidak hanya dimaknai sebagai jalur perdagangan, melainkan juga ruang sakral yang dipercaya memiliki kekuatan gaib.
Kepercayaan tersebut melahirkan sosok Dewi Lanjar sebagai representasi spiritual masyarakat Pantura, khususnya di wilayah Pekalongan. Dewi Lanjar dikenal sebagai penguasa laut utara yang dihormati, terutama oleh para nelayan.
Dalam mitologi Jawa, terdapat beberapa versi asal-usul Dewi Lanjar, salah satunya menyebutkan bahwa ia merupakan jelmaan atau pengikut Nyi Roro Kidul. Versi lain mengisahkan Dewi Lanjar sebagai Dewi Rara Kuning, janda muda yang menjalani kehidupan penuh kesedihan sebelum akhirnya menjadi penjaga laut utara.
Seiring berkembangnya legenda tersebut, muncul berbagai mitos yang dipercaya masyarakat, mulai dari keberadaan keraton gaib di Pantai Slamaran, kisah anak-anak yang hilang dan diyakini diasuh Dewi Lanjar, hingga mitos pesugihan yang dikaitkan dengan kekayaan dan tumbal nyawa.
Terlepas dari berbagai cerita yang beredar, Dewi Lanjar tetap dipandang sebagai simbol penjaga laut yang mengatur ombak, angin, dan hasil laut, sehingga para nelayan masih menjalankan ritual tertentu demi keselamatan dan keberkahan saat melaut.