JAKARTA - Umi Pipik memperingati 11 tahun kepergian sang suami, Ustadz Jefri Al Buchori yang meninggal dunia pada 26 April 2013. Melalui unggahan di Instagram pribadinya, Umi Pipik membagikan foto-foto kenangan bersama sang suami semasa hidup.
Umi Pipik mengenang memori indah bersama almarhum melalui foto-foto tersebut. Senyum dan tawa Uje dan anak-anak tergambar jelas dalam foto itu. Beberapa fase kehidupan telah dilewati bersama sejak pernikahan hingga dikaruniai empat anak hingga akhirnya Uje harus pergi untuk selamanya. Umi Pipik pun harus terus melanjutkan hidup tanpa sosok suami di sampingnya.
"Bismillah. 26 april 2013 - 26 april 2024 , 11 tahun sudah tidak terasa kamu sudah kembali kepada pemilikmu, 11 tahun kami mampu menjalani dengan segala hal yang terjadi setelah kepergianmu, ujian demi ujian kami jalani, kami menata hidup," ujar Umi Pipik dikutip dari unggahan Instagram pribadinya @_Umi_pipik_, Sabtu (27/4/2024).
Seketika kehidupan Umi Pipik berubah, harus membesarkan dan mendidik keempat anaknya sesuai dengan ajaran agama Islam yang dianutnya. Umi Pipik menjalani peran sebagai seorang ibu sekaligus ayah untuk menanamkan sikap mandiri, sabar, ikhlas, melibatkan Allah SWT dalam segala urusan, dan selalu taat akan perintah Allah SWT. Tak lupa Umi Pipik selalu mengingatkan kepada anak-anaknya untuk saling menyayangi dan membantu satu sama lain.
"Sejak kamu kembali kepada Allah, segala hal mulai dipikirkan sendiri, kesedihan, ketakutan, menjadi sebuah kemandirian, karena hidup harus terus berjalan, mulai ku didik mereka dengan kelembutan, kedisiplinan, tapi tidak memaksakan. Mengenalkan ketaatan. Alhamdulillah itu semua sudah kulakukan sebagai tanggung jawabku sebagai seorang ibu dan ayah untuk mereka," ungkapnya.
BACA JUGA:
Segala perjuangannya selama sebelas tahun menjalani kehidupan tanpa kehadiran suami disisinya perlahan berakhir manis. Segala cobaan yang datang menghampiri, pengorbanan yang telah dilakukan, disyukuri oleh Umi Pipik karena dia selalu percaya bahwa segala peristiwa yang terjadi dalam hidupnya pasti ada hikmahnya. Perjuangan tak pernah berhenti dilakukan serta doa tak pernah putus dipanjatkan setiap harinya.
"Akhirnya semuanya indah walaupun harus berjuang dari nol ketika kami kehilangan semua harta benda rumah kami dalam kebakaran api yang tidak bisa kompromi. Tapi semua ada hikmahnya ketika zero itu adalah titik dimana kita kembali kepada Allah dengan segala harapan dan doa yang dilangitkan , hingga Allah ijabah segala doa. SUNGGUH KESIBUKAN DI DUNIA YANG PALING BAIK ADALAH KETAATAN," pungkasnya.
BACA JUGA:
(aln)