LOS ANGELES - Ariana Grande mengaku mengalami Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) setelah tiga tahun peristiwa ledakan bom di Manchester, Inggris. Manajer Ariana Grande, Scooter Braun mengungkapkan bahwa Ariana Grande mengalami trauma dan masih berusaha untuk melupakan tragedi itu.
“Dia (Ariana) menderita PTSD, dia masih mengalaminya sampai hari ini,” terang Braun, sebagaimana dilansir Asia One.
Kala itu, seorang teroris meledakkan bom dalam konser Ariana Grande di Inggris pada 22 Mei 2017. Insiden bom tersebut menewaskan 22 orang dan menyebabkan ratusan orang mengalami luka-luka.
Baca Juga:
Dampak Pemboman Manchester, Ariana Grande Ungkap Idap PTSD
Sekarang Duet, Lady Gaga Sempat Malu Berteman dengan Ariana Grande
Sementara itu Ariana telah mengirimkan bela sungkawa kepada masyarakat yang terkena dampak ledakan bom di Manchester Arena. Ia mengatakan peristiwa tersebut menimbulkan kesedihan khusus dan beban yang sangat luar biasa. Terutama saat hari peringatan tentang insiden tersebut tiba.
“Saya ingin mengambil waktu sejenak untuk mengakui dan mengirimkan cinta kepada semua orang yang merasakan kesedihan dan beban luar biasa dari peringatan yang akan datang pekan ini,” tulis Ariana melalui akun Instagram-nya.
Ariana Grande sebelumnya berbicara tentang bagaimana ia mengalami PTSD. Ia mengaku sering mengalami pusing dan cemas akibat penyakit tersebut.
“Aku benci, ya aku mengakuinya. Itulah yang dikatakan semua orang. Sulit untuk dibicarakan karena begitu banyak orang yang begitu parah menderita kerugian yang luar biasa. Tapi itu adalah hal nyata. Aku kenal keluarga-keluarga itu dan penggemar serta semua orang di sana yang juga mengalami hal yang luar biasa,” tuntasnya.
(aln)