JAKARTA - Adipati Dolken berperan sebagai Hardo, tentara PETA yang diburu Jepang dalam film Perburuan. Film ini diadaptasi berdasarkan novel berjudul sama karya Pramoedya Ananta Toer.
Bermain dalam film berdasarkan karya Pramoedya Ananta Toer, tentunya tantangan tersendiri bagi Adipati Dolken. Diakui olehnya, beban besar dirasakan karena tak ingin mengecewakan penggemar novel, termasuk Pram itu sendiri.
Baca Juga:
Sentil Galih Ginanjar, Hotman Paris Tawarkan Pekerjaan Lap Ban Lamborghini
Viral, Drummer Ghaib Band Spoon Plus Kisah Tragis Kematian Vokalis
"Ini omongin sastra. Apalagi dari buku Pram, itu cukup punya beban banget kalau penyampaiannya sampai salah," kata Adipati Dolken saat peluncuran poster Perburuan, di RBOJ Cafe, Jakarta Selatan.
Karya sastra karya Pram memang mempunyai warna tersendiri. Maka dari itu, Adipati Dolken harus benar-benar bisa menyampaikan pesan dari setiap adegan yang dimainkan.
Proses reading pun menjadi hal vital. Adipati benar-benar memanfaatkan proses reading untuk bisa mendalami karakter Hardo.
Tak cuma itu, beratnya naskah dialog harus bisa ia hafalkan. Tak cuma setiap kata yang tertulis melainkan makna dan rasa dari setiap dialog yang tersaji di novel Perburuan.
"Kita perlu brainstorming dulu dan mengeeti bahasa yang jadi dialog kayak gimana. Bahasa itu jadi kesulitan Juga karena bahasanya sastra banget dan panjang. Ada satu scene yang sampe 13 lembar," jelas Adipati Dolken.