JAKARTA - Lee Jeong Hoon, salah satu personel boyband Hitz, menilai industri musik Indonesia sangat potensial jadi salah satu tulang punggung ekonomi. Pasalnya, banyak masyarakat tertarik berkecimpung di bidang musik dengan berbagai genre.
Namun, dia menyayangkan pelaku industri musik yang masih terjebak dengan kegemaran masyarakat terhadap genre musik tertentu.
"Di Indonesia banyak yang potensial, genrenya banyak, tapi suka dipilih-pilih. Misalnya tahun ini marak boyband, maka boyband semua. Tapi zamannya boyband susah, tidak dipanggil. Kalau tampil, tampil semua," kata Lee saat berbincang dengan Okezone di Jakarta, belum lama ini.
Pelantun "Yes Yes Yes" ini lalu membandingkan dengan industri musik di tanah kelahirannya, Korea Selatan. Di sana, industri musiknya bisa mengakomodir semua aliran.
"Saya lihat di Korea, juga di amerika, atau di mana, mereka kan ada ruangnya, ada boybandnya juga ada solois juga. Kalau di Indonesia dangdut, dangdut semua, band, band semua. Saya ingin sih, di Indonesia walau genrenya berbeda bisa tampil bareng," ujarnya.
Tak hanya itu, Lee juga menyayangkan masalah Ring Back Tone dan unduhan illegal tur menjadi poin minus industri musik Tanah Air. Sehingga, merugikan musisi dan masyarakat terkait pajak.
"Di Korea kalau ada orang membajak lagu walaupun orang itu punya beking sekuat apa, pasti kena sama polisi. Kita cari bajakan di sana susah," akunya.
"Download pun harus bayar, kayak iTunes. Di sini film saja bisa sampai lima menit kalau download," tandasnya.
(nsa)