“Sampai hari ini Aceh belum sepenuhnya pulih, kebakaran hutan dan lahan masih terjadi di Kalimantan, Sumatera, Papua, dan wilayah lain di Indonesia. Kehidupan masyarakat terganggu, termasuk anak anak yang harus menghirup kabut asap selama berbulan-bulan,” tulis Nicholas.
Bagi Nicholas, banjir dan longsor di Sumatera serta kebakaran hutan dan lahan bukan sekadar peristiwa yang datang tanpa peringatan. Ia menilai kedua bencana ekologis itu sebenarnya dapat dimitigasi jika peringatan yang ada ditanggapi dengan serius.
“Keduanya adalah bencana ekologis yang sebenarnya bisa dimitigasi. Alam dan science sudah memperingatkannya. Alarmnya sering berbunyi, namun tombol snooze kerap ditekan,” tulisnya.
Pernyataan tersebut menjadi sorotan karena Nicholas tidak hanya memperlihatkan dokumentasi kondisi lingkungan, tetapi juga mengajak publik melihat persoalan yang lebih besar di balik bencana yang terjadi berulang kali.
Ia menyoroti dampak yang dirasakan masyarakat, mulai dari pemulihan wilayah yang belum tuntas hingga paparan asap akibat kebakaran lahan. Melalui unggahan itu, Nicholas kembali mengangkat pentingnya perhatian terhadap persoalan lingkungan di Indonesia.
Tak hanya melalui media sosial, Nicholas juga membagikan pemikirannya mengenai persoalan lingkungan lewat sebuah tulisan berjudul Hutan Rusak, Siapa yang Menanggungnya? di salah satu media.