JAKARTA - RAFA International Dance Studio menggelar aksi memukau ratusan penari dalam pertunjukan tahunan ke-13 bertajuk "Growth: Growing into RAFA, Our Way Through Heritage" di Panggung Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat pada Sabtu (18/7/2026).
Pementasan ini melibatkan lebih dari 250 murid menunjukkan bakatnya lewat tarian modern seperti balet, jazz, dan hip hop dengan kekayaan budaya Nusantara.
Bukan sekadar pameran teknik, pertunjukan menjadi sebuah pernyataan budaya tentang bagaimana generasi muda bertumbuh tanpa melupakan akar sejarah bangsa.
Founder RAFA International Dance Studio, Nevine Rafa Kusuma, mengungkapkan bahwa perjalanan 13 tahun institusinya ini menjadi upaya menciptakan ruang aman bagi anak-anak untuk berproses.
"Saya ingin membuka suatu institusi pendidikan tari informal yang bisa mewadahi setiap anak. Menjadi ruang yang aman untuk mereka bertumbuh, berproses, dan akhirnya menjadi tempat di mana mereka bisa bersinar melalui prosesnya, bukan sekadar tentang berapa banyak medali yang didapatkan," ujar Nevine saat ditemui di lokasi acara hari ini.
Tantangan terbesar dalam pertunjukan ini diakui oleh Head Program RAFA, Felicia Chitra. Ia mengatakan proses membuat anak-anak masa kini memahami esensi dari tarian tradisional yang mereka bawakan bukan perkara mudah.
"Tantangannya bukan cuma menyusun koreografi untuk 250 penari, tapi memastikan mereka paham sedang jadi siapa dan menceritakan apa. Misalnya, mereka menari jazz dengan lagu Tokecang, kita ajarkan dulu latar belakang daerahnya supaya mereka bangga menjadi bangsabIndonesia di tengah era global," tutur Chitra.
Perwakilan Yayasan Raya Budaya Nusantara, Tiara, menekankan pentingnya pengemasan budaya yang relevan agar tidak ditinggalkan oleh anak muda.
Menurutnya, kolaborasi ini menjadi solusi agar nilai-nilai luhur Nusantara tidak hanya tersimpan di arsip digital, tetapi hidup di atas panggung.
"Anak-anak sekarang lebih sering terpapar budaya pop luar negeri. Melalui pertunjukan ini, kita ingin menunjukkan bahwa budaya Indonesia itu sangat keren dan gaul, bahkan bisa lebih menarik dari budaya pop jika dikemas dengan cara yang menyentuh hati mereka," jelas Tiara.
Bintang utama pertunjukan ini, Syakura yang memerankan tokoh Rafa Kecil dan Kirana sebagai Rafa Besar, mengaku sangat antusias meski harus berlatih intens selama dua bulan.
Kirana merasa cerita dalam pertunjukan ini sangat dekat dengan kehidupan pribadinya sebagai remaja yang hidup di era modern namun tetap ingin memegang tradisi.
"Aku merasa relate banget sama karakter Rafa. Kadang aku merasa terjebak di antara FOMO mengikuti tren teman-teman yang modern, tapi di sisi lain aku rindu dengan permainan tradisional masa kecil," ungkap Kirana.
Seagai informasi, filosofi Growth sendiri diambil sebagai metafora sebuah pohon yang berakar kuat, bertumbuh, dan akhirnya bersinar.
Dalam pertunjukan tersebut, penonton disuguhkan aransemen yang tak biasa, seperti tarian jazz yang menggunakan lagu Tokecang hingga gerak hip hop yang dipadukan dengan unsur budaya Papua, menciptakan harmoni yang segar dan relevan bagi generasi Alpha.
(kha)
Celebrity Okezone menghadirkan berita terbaru, eksklusif, dan terpercaya seputar artis dalam dan luar negeri