Tak perlu waktu lama, juru bicara White House, Abigail Jackson pun langsung memberikan jawaban menohok. Mereka menegaskan tidak akan meminta maaf atas deportasi yang mereka anggap kriminal dan akan membela kebijakan penangkapan massal.
Namun sikap keras yang ditunjukkan Sabrina Carpenter memancing sorotan publik. Bukan hanya soal hak cipta, tapi juga etika dalam menggunakan karya seni untuk kepentingan politik dan sosial.
Baginya, musik adalah ekspresi diri dan hiburan bukan alat untuk menggiring opini politik dengan narasi yang menyudutkan kelompok tertentu. Ternyata Sabrina juga bukan satu-satunya nama besar yang bersuara.
Sejumlah musisi sebelumnya juga menolak penggunaan lagu mereka untuk mendukung kebijakan kontroversial.
(kha)