Bangkit Sanjaya, Bangsawan Mangkunegaran yang jadi Rocker

Dody Ferdiansyah (Koran Sindo), Jurnalis · Senin 17 Mei 2021 08:13 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 17 205 2410981 bangkit-sanjaya-bangsawan-mangkunegaran-yang-jadi-rocker-JoAQkLHsQu.JPG Bangkit Sanjaya (Foto: Youtube)

JAKARTA - Bangkit Sanjaya terjun di blantika musik rock tahun 1987. Pria kelahiran Solo, 12 Januari 1963 ini mengawali kariernya tahun itu, dirinya hijrah dari Solo ke Jakarta. Di Jakarta berbagai festival nyanyi disabetnya hingga dirinya bisa masuk dapur rekaman pada 1989. Ia kemudian dikenal publik lewat album perdananya, Daun-daun Sorga.

Ketika tahun 2000-an musik rock mulai redup, ia tiarap dari hingar bingar dunia musik. Ia memilih menggeluti dunia usaha bersama keluarga besarnya, mulai dari bisnis pertambangan sampai bidang property , membangun apartemen di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

Dalam bidang properti, ia pernah membuat program Rumah Sangat Sederhana Sekali (RSSS). Proyek pertamanya berada di Manado, lalu meluas ke Samarinda, termasuk ke Sragen, Solo, Yogya dan Magelang.

Bertahun-tahun ia menjalani kehidupan sehari-harinya sebagai seorang pengusaha. Meski begitu, darah seninya masih senantiasa bergolak. Ia tak bisa melupakan dunia musik yang melambungkan namanya. Dia tidak mundur dari dunia hingar bingar dunia entertain.

Bangkit Sanjaya 

“Saya bekerja dan menjalani hidup saya sudah tertatur. Tak lagi seperti dulu,” ujarnya ketika ditemui di kawasan Menteng, Jakarta Selatan, pekan lalu.

Kini usianya sudah kepala lima tahun, tetap ia terihat awet muda. “Saya ya gini ini, berubah atau tidak, orang lain yang bisa menilai. Masih kaosan oblong, pakai jaket, dan celana jins bolong-bolong. Tapi, sudah tidak urakan kayak dulu. Tidak lagi mabuk-mabuk. Tak lagi bersentuhan dengan narkoba, “ ungkapnya .

Ia juga bercerita jika sebelumnya dirinya pun pernah membuat pabrik sepatu di Bandung dengan merek BS. Lalu dirinya juga sempat membuat EO untuk berbagai kegiatan. Diakuinya, ilmu bisnis ini ia pelajari dari kakak iparnya yang memang seorang pengusaha.

“Dalam properti misalnya, saya beli lahan di beberapa tempat, dan saya buatkan rumah sederhana. Waktu itu harganya pun masih murah, satu rumah sekira Rp15 jutaan. Lalu saya beli lagi lahan dan kerjasama dengan bank. Dulu hitungannya gampang, kalau beli tanah di bawah Rp100 ribu per meter, itu gampang ngitungnya,” katanya.

Ia pernah mencoba terjun ke dunia politik dan menjadi calon legisltatif tetapi gagal melangkah ke Senayan. Pria yang akrab di panggil 'Si Bungsu’ ini mengatakan saat karirnya redup, ia merasa terpanggil di panggung politik dan mengabadi langsung kepada masyarakat. “Bukan tergiur karena saya artis, “ ungkapnya.

Penyanyi seangkatan Harry Mukti, Deddy Stanzah, Ikang Fauzi dan Gito Rollies ini mengaku, gagal masuk perleman ia berkonsentrasi menekuni bisnis properti dan media online.

Ia merasa memperolah tantangan baru ketika terjun kedunia bisnis. Kegiatan tersebut hanya bisnis property yang bertahan hingga saat ini, sedang media onlinenya sudah ditutup.” Saya berbisnis properti saja,” ujarnya.

Dia mengaku semua pekerjaan dirasakan sebagai sebuah pekerjaan seni, sehingga dirinya tak merasa terbebani. Ia sangat menikmati pekerjaan tersebut. Ia sering turun kelapangan, mengawasi para pekerja.

Ia menyebut, itu pekerjaan nekad. Memang tidak mudah, tapi dibalik itu Bangkit justru menemukan tantangan yang mengasyikkan. “Lain rasanya, saya tidak merasa seorang artis besar,” ucapnya.

Setelah sekian lama vakum, ia kini mulai menerjuni kembali musik rock meski tak terjun langsung. Ia membidani kelahiran grup rock yang berisi anak muda bernama Interstate. Grup musik yang telah dibinanya beberapa tahun ini sebagai pembuktian dirinya tak menyerah begitu saja melihat kondisi musik rock yang mati suri.

"Musik rock saat ini mati suri. Tapi sebenarnya tidak harus seperti itu," katanya .

Pengalamannya malang melintang puluhan tahun di dunia musik mengajarkan banyak hal, salah satunya keyakinan. “ Dunia musik itu berputar, kadangkala pop naik, dangdut naik, lalu pop melayu. Dan kini saatnya musisi rock itu berjuang," ucapnya.

Bangkit Sanjaya 

Menurutnya musik rock di Indonesia juga banyak disebabkan oleh banyaknya TV dan radio yang sudah jarang menampilkan karya musisi rock tanah air. "Bahkan ada radio yang melarang memutar lagu-lagu rock di jam-jam tertentu," ungkapnya.

Ia yakin jika era musik rock akan bangkit kembali di tahun ini. Keyakinannya itu berdasarkan indikasi jika di beberapa tempat seperti cafe-cafe, musik rock yang selama ini dianggap bising, kini dibutuhkan lagi.

Bangkit adalah seorang putera bangsawam keraton Mangkunegaran Surakarta, ayahnya bernama KPH Sanjoyo HS . Tapi gejolak jiwa mudanya membuat dirinya memilih karier di musik rock..

Diceritakannya, saat itu ibunya , Siti Jaerah, tinggal di luar keraton dan dirinya lebih sering mengikuti ibunya. Bermusik adalah bagian dari sejarah petualangan hidupnya.

“Jadi, dari sejak SD itu saya sudah senang ngeband di Solo. Ibu saya dulu seorang penari keraton. Karena senang nyanyi dari kecil saya sering juga ikut festival di Solo, dan alhamdulillahnya menang,” ucapnya.

Keinginan kuat dalam bernyanyi membuat jiwanya berontak, meskipun tetap mengedepankan nilai-nilai tradisi keluarga. Hal itulah yang kemudian membuat dirinya memutuskan untuk kabur dari keraton dan pergi ke Jakarta pada tahun 1987 dengan tanpa pengetahuan siapapun, termasuk ibunya.

Di Jakarta, Bangkit muda pun menjadi anak jalanan dan sering nongkrong di Pasar Seni, TIM, dan masih rajin ikut festival bernyanyi.

“Di Jakarta saya juga masih ikut festival, dan menang juga. Saat itu masih tahun 1987-an, saya jadi juara 1 vokal se-Jawa-Bali. Jurinya di antaranya Jelly Tobing, Doni Fatah, dan beberapa yang lain. Nah, saya digodok sama mereka hingga akhirnya bisa masuk dapur rekaman pada 1989. Di tahun itu album pertama saya adalah Daun-daun Sorga,” katanya lagi.

Bangkit Sanjaya 

Ia menjelaskan bahwa guru vocal dan pengorbit dirinya adalah musisi Areng Widodo dan Donny Fattah God Bless. “Hampir separuh hidup saya habis di dunia kesenian.Saya gilanya sama Gito Rollies dan Dedy Stanzah...he..he,”tukasnya.

Areng widodo adalah pengarang lagu-lagunya Ahmad Albar. Dia pernah aktif bengkel teater Rendra.”

Makanya saya akrab dengan dunia teater termasuk pelaku- pelakunya . Saya sering main ke rumah mas Willy atau Rendra sejak masih kontrak sampai punya tempat buat berkumpul anggota Bengkel Teater di Cipayung ,”paparnya.

Ia lantas masuk dapur rekaman dan lagu-lagunya kemudian diputar di berbagai media. Maka keberadaan dirinya pun tercium lagi sama keluarganya di Solo. Apalagi saat itu dirinya diberitakan di halaman pertama salah satu media terkenal di ibu kota.

“Ya akhirnya saya bertemu lagi sama keluarga saya di Jakarta. Tapi saya masih asyik menikmati petualangan dalam berkesenian. Dan karena dasarnya anak jalanan, meski sudah diberikan dukungan sama keluarga, saya masih saja bandel,” ceritanya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini