JAKARTA – Jika Anda pencinta musik rock, pasti tidak asing lagi dengan nama Gibson. Ya, merek gitar ternama asal Amerika Serikat ini merupakan salah satu produk favorit beberapa gitaris legendaris dunia.
Sayangnya, keberadaan gitar tersebut akan sangat langka beberapa tahun ke depan. Hal ini dikarenakan Gibson Brand Inc telah mengajukan nota kebangkrutan ke Kementerian Industri Amerika Serikat.
Baca juga: Rick Hanes Gitar Indonesia Sabet 3 Piala di Inggris

Sedihnya, dalam surat keterangan kebangkrutan tersebut perusahaan yang bermarkas di Nashville ini berusaha mencari jalan keluar dari utang. Salah satu caranya adalah dengan menyingkirkan beberapa bisnis sampingan mereka dan berkonsentrasi pada pejualan alat musik.
"Selama 12 bulan terakhir, kami telah membuat langkah besar melalui restrukturisasi operasional. Kami telah menjual merek sampingan, meningkatkan pendapatan, dan mengurangi permintaan modal kerja," kata CEO Gibson Henry Juszkiewicz, seperti dikutip dari situs Rolling Stone, Rabu (2/5/2018).
Salah satu contohnya adalah divisi bisnis audio and home entertaiment yang berasal dari pembelian saham Philips pada 2014. Gibson membeli perusahaan tersebut senilai USD135 juta atau sekira Rp1,8 triliun.
Baca juga: Berkat Film Coco, Penjualan Gitar di Meksiko Melambung Drastis
Sekadar informasi, kini Gibson dikabarkan memiliki utang sebesar USD100 juta hingga USD500 juta (sekira Rp1,4–6,9 triliun). Utang ini tersebar ke 26 perusahaan, seperti Rosewood dan beberapa lini bisnis lainnya.
Akan tetapi, Gibson tampaknya tidak akan benar-benar "mati" dalam waktu dekat. Hal ini dikarenakan beberapa bisnis sampingan mereka, seperti Epiphone, Kramer, Steinberger, Dorbo, dan Baldwin diharapkan bisa menarik para penggemar musik.
"Nama Gibson identik dengan kualitas, dan apa yang kita lakukan hari ini akan memungkinkan generasi mendatang merasakan suara, desain, serta keahlian yang tak tertandingi di setiap produk Gibson," tegas Juszkiewicz.
(han)