Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

George RR Martin, Raja Dunia Fantasi

Koran SINDO , Jurnalis-Senin, 05 Februari 2018 |12:50 WIB
George RR Martin, Raja Dunia Fantasi
George RR Martin (Foto: Denofgeek)
A
A
A

Jadi, saat disebut sebagai penulis yang lamban oleh pembaca atau kritikus, Martin tetap tidak peduli. Martin sebetulnya telah menjadi penulis yang produktif selama bertahun-tahun. Bahkan, dia telah memenangkan Hugo Award pada 1974 untuk novel A Song for Lya. Dia bahkan pernah menulis untuk serial televisi terkenal yang masuk ke Indonesia pada 1990-an, Twilight Zone. Martin berasal dari keluarga miskin dan menghabiskan sebagian besar masa mudanya dalam kemiskinan. Namun, dia tidak menyerah dan melawannya dengan pendidikan.

Dia kuliah di Northwestern University dan lulus dengan gelar sarjana pada 1970 dan master pada 1971 dalam bidang jurnalistik. Pada usia 21 tahun, dia menjual cerpen pertamanya, The Hero ke majalah Galaxy demi biaya hidup dan sekolahnya. Dikutip E!News, Martin sempat menjadi sukarelawan untuk organisasi bantuan hukum di Chicago sembari mencari nafkah sebagai penyelenggara turnamen catur dan menulis fiksi singkat. Dia juga sering menghadiri konvensi fiksi ilmiah dan fantasi. Pada 1976, dia menerima posisi sebagai pengajar jurnalistik di Clarke College di Dubuque, Iowa. Namun, setelah mengajar di universitas selama beberapa tahun, Martin memutuskan menulis fiksi secara penuh.

Martin menulis beberapa novel yang merupakan gabungan antara kesuksesan kecil dan kegagalan kritis dalam hidunya. Pada 1977, Martin merilis karya pertama fiksi panjangnya, Dying of the Light. Novel ini tentang festival di sebuah planet yang men dekati kiamat. Lalu dua tahun kemudian, dia pindah ke Santa Fe, New Mexico, untuk menulis penuh waktu. Selain untuk novel A Song for Lya, Martin juga menerima Hugo dan Nebula Award untuk novelnya, Sandkings (1981). Tahun itu dia juga merilis Windhaven bersama Lisa Tuttle tentang seorang gadis yang memiliki kemampuan untuk terbang, lalu menelurkan dua novel vampir Fevre Dream (1982) dan kisah horor rock-and-roll Armageddon Rag (1983).

Sebelum memutuskan fokus ke menulis penuh waktu, Martin juga sempat bekerja sebagai penulis untuk serial televisi Beauty and the Beast (1987-1990), lalu menjadi produser untuk serial televisi. Namun, Martin akhirnya kembali menulis fiksi panjang pada 1991 setelah merasa tidak begitu beruntung di dunia televisi. Soal menulis novel Game of Thrones, Martin mengaku, kala itu sebuah adegan mengejutkan muncul di pikirannya, yakni gambaran seorang anak laki-laki yang melihat seorang pria dipenggal kepalanya, kemudian menemukan beberapa anak serigala yang mengerikan di salju.

"Itu sangat mengejutkan saya dan saya tahu bahwa saya harus menuliskannya," ujarnya kepada Rolling Stone.

(aln)

Celebrity Okezone menghadirkan berita terbaru, eksklusif, dan terpercaya seputar artis dalam dan luar negeri

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita celebrity lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement