JAKARTA- Komunitas Minangkabau menilai argumentasi Hanung Bramantyo perihal protes film Cinta Tapi Beda, merupakan dalil bentuk kepanikan dari kekeliruan yang telah dibuatnya.
Kuasa hukum Komunitas Minangkabau, Zulhendri, mempertanyakan apakah kekeliruan itu disengaja atau memang kekeliruan yang nyata. “Tapi, pihak kami menilai kekeliruan itu adalah by desain. Dan menampilkan sesutu yang tidak umum, agar diprotes dan ramai film mereka ramai dibicarakan. Itu grand strategi marketing mereka,” ujarnya saat berbincang dengan Okezone, Jakarta (9/1/2013).
Zul menjelaskan, pernyataan Hanung bahwa Diana itu bukan gadis asli Padang, melainkan pendatang itu juga dalil bentuk kepanikan. Padahal, dengan tegas disebutkan di dalam film bahwa Diana adalah gadis asli Padang. “Padang identik dengan Minang, Minang identik dengan Islam,” ujarnya.
Dia melanjutkan, tidak pernah disebutkan sama sekali bahwa Diana, yang diperankan Agni Pratisha, adalah seorang gadis asal Manado yang merupakan pendatang di Padang.
“Persoalan ada orang Kristen di Padang, ada gereja, itu persoalan lain. Yang jadi masalah film itu menggambarkan sesuatu yang tidak senyatanya. Dia juga menilai, Hanung selama ini berlindung di balik kebebasan berekspresi dan juga keberagaman, serta perbedaan kultur.
“Silakan saja, tapi tolong jangan sakiti orang,” katanya.
Jangan sampai diputar balik, katanya, dia memang tidak membuka secara terang benderang grand desain itu. Tapi, secara ruhnya sudah terlihat dengan menampilkan orang Minang seperti di film tersebut.
“Saya sudah menonton film itu tiga kali,” tegasnya.
(uky)