Ki Kusumo: Kiamat 2012 Hanya Dagangan Film

Johan Sompotan, Jurnalis · Kamis 19 November 2009 18:08 WIB
https: img.okezone.com content 2009 11 19 206 277343 GA62r3caQ8.jpg (Foto: perempuan.com)

JAKARTA - Desakan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat kepada Lembaga Sensor Film (LSF) untuk menarik film 2010 dari peredaran karena dianggap bermuatan SARA, disikapi Ki Kusumo.

Menurutnya, pro dan kontra di masyarakat adalah hal yang wajar, tergantung dari mana kepentingan mereka bicara.

"Film ~2012' adalah sebuah hiburan. Kita tidak boleh menghakimi sebuah karya seni. Masyarakatlah yang harus pintar menilai sisi baik dan buruknya. Toh bukan hal yang mustahil usai nonton film tersebut justru mampu menyadarkan kita," terang Ki Kusumo saat ditemui Jl Swatantra V nomer 6 Jatiasih Bekasi, Rabu (18/11/2009).

Kiamat 2012 yang digambarkan dalam film yang kini menimbulakn kontroversi menurut produser Film Police Academy ini film 2012 hanyalah cerita fiksi yang berkiblat dari perhitungan Bangsa Maya.

"Bangsa Maya sama halnya kita sebagai manusia yang memiliki keterbatasan. Kalau bicara ramalan, saya justru lebih percaya ramalan Joyoboyo," sambung Ki Kusumo sambil senyumnya mengembang.

Ki Kusumo menghimbau pada masyarakat untuk tidak terlalu membesar-besarkan isu kiamat 2012.

"Kalau bicara kiamat, kita lihat pengertian kiamat itu seperti apa. Karena kiamat itu sesungguhnya adalah rahasia Allah SWT. Kapanpun bisa terjadi, tidak akan ada manusia yang tahu. Sebagai umat Islam saya percaya adanya kiamat, namun saya tidak percaya tahun 2012 akan terjadi kiamat," imbuhnya.

Ki Kusumo sendiri mengaku telah menonton film tersebut. Secara efek visual, dia tak segan memberi acungan jempol.

"Isu kiamat yang diangkat momennya sangat tepat. Perusahaan filmnya pintar memanfaatkan peluang bisnis," imbuh paranormal yang juga produser film ini.

Ditambahkan bahwa kiamat 2012 hanyalah sebuah strategi promosi.

"Disinilah letak kehebatan para marketingnya. Jadi kiamat 2012 hanyalah dagangan film. Terlepas bisa menyadarkan manusia atau malah menyesatkan, tergantung persepsi orang yang menonton," papar Ki Kusumo lagi.

(nov)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini