Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Bangun Sugito Dalam Kenangan: Legenda Tetaplah Legenda

Ismoko Widjaja , Jurnalis-Kamis, 28 Februari 2008 |20:43 WIB
Bangun Sugito Dalam Kenangan: Legenda Tetaplah Legenda
Almarhum Bangun Sugito (Foto: Johan Sompotan/okezone)
A
A
A

JAKARTA - Gelar legenda sangat layak disandingkan di bahu pria yang lahir di Biak, Papua 1 November, 61 tahun lalu itu. Dengan mengidolakan Rolling Stone, membawa dirinya menjadi Mick Jagger Indonesia.

Pada era 70-an The Rollies mulai menunjukkan taringnya. Tapi, siapa yang tahu asal kata The Rollies? Rupanya, salah satu pendirinya, almarhum Deddy Stanzah, punya jawaban lucu.

"Rollies itu berasal dari jenis rambut kita berempat. Saya dan Iskandar berambut roll (keriting), sedangkan Delly dan Iwan berambut lurus. Lalu disingkat menjadi rollies," ujar Deddy pada 1997 silam.

Band yang lahir di Bandung pada tahun 1967 itu, beranggotakan para musisi handal dan piawai. Para legenda itu yakni Bangun Soegito (vokal), Teuku Zulian Iskandar Madian (saxophone, gitar), Benny Likumahuwa (trombone, flute), Didiet Maruto (trumpet), Jimmie Manoppo (drum), dan Oetje F Tekol (bas).

The Rollies semakin meraih kesuksesan lewat album-album Salam Terakhir (1972), Setangkai Bunga (1972), Kemarau (1976), Haus di Padang Tandus, Kau yang Kusayang, Bimbi (1976), Hari-Hari, dan Dansa Yuk Dansa (1976). Gemilangnya kiprah The Rollies tak lepas dari kekuatan sang vokalis, yang akhirnya mengikrarkan nama Rollies di belakang nama aslinya, Gito Rollies.

Lagu-lagu The Beatles, Bee Gees, dan The Rolling Stones menjadi santapan setiap hari bagi Gito Rollies, saat itu. Setelah bercerai dari artis Uci Bing Slamet, Gito menikahi gadis berdarah Belanda bernama Michelle. Empat buah hati pun diberikan Yang Maha Kuasa dari hasil pernikahannya dengan Michelle.

Memasuki usia 50-an, penyanyi bersuara serak dengan gaya panggung yang melebihi Armand Maulana itu, mulai sakit-sakitan. Penyakit yang dideritanya pun terbilang sangat serius. Dentuman musik, hingar-bingar dan panggung musik seakan-akan sengaja dijauhkan Gito.

Bukan perlahan menghilang dan lenyap. Tapi, Gito rupanya sengaja mengambil jalan lain. Sampai akhirnya, pria yang sempat mengenyam dua tahun di Institut Teknologi Bandung (ITB) itu, pada tahun 2007 menelurkan album religi "Kembali Pada-Nya". Ini bukan titik balik, tapi adalah pilihan hidup yang sangat bijak diambil Rocker yang kini mengidolakan Nabi Muhammad SAW itu.

Kemoterapi pun sempat dilalui usai menjalani pengobatan di Singapura. Kanker kelenjar getah bening membuat dirinya harus menghabiskan waktu di kursi roda. Tapi, semangat dan jiwa yang meledak-ledak penuh motivasi serta rendah hati itu, tak pernah hilang dari sang legenda yang tidak pernah melepaskan peci hajinya.
 
Legenda tetaplah legenda. Tidak ada legenda hidup. Sebab, semua legenda dan cerita yang menaungin dibelakangnya tidak akan pernah mati apalagi surut. Kamis (28/2/2008), Sang Khalik menjemput Bangun Sugito untuk mendapatkan tempat yang lebih baik. Semoga. Selamat Jalan Bang Gito...

(mbs)

Celebrity Okezone menghadirkan berita terbaru, eksklusif, dan terpercaya seputar artis dalam dan luar negeri

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita celebrity lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement