JAKARTA - Sebelum menggembok akun Threads miliknya, Maia Estianty ternyata sempat mendoakan beberapa kawasan di Indonesia yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Doa itu diunggahnya, pada 11 Oktober 2026.
“Bismillahirrahmanirrahim ya Allah. Turunkanlah hujan rahmat-Mu untuk memadamkan kebakaran hutan di Kalimantan, Sumatera, Papua, dan di mana pun berada. Lindungi setiap jiwa dan makhluk-Mu,” tulis sang musisi dalam unggahannya.
Dalam lanjutan tulisannya, ibu tiga anak memohon ampun atas kezaliman dan kelalaian manusia dalam menjaga bumi. “Ampunilah kezaliman serta kelalaian kami dalam menjaga bumi-Mu. Jika musibah ini teguran bagi kami, lembutkanlah hati kami untuk bertobat dan memperbaiki diri.”
Menariknya, sejumlah warganet tampak keberatan dengan cara Maia Estianty menggunakan kata ‘kami’ dalam utasnya. Mereka menilai, sang musisi seakan menyamaratakan tanggung jawab kebakaran hutan dan lahan yang terjadi.
“Kezaliman ‘kami’? Duh, maaf. Enggak ya. Kami tidak mau diajak zalim,” ujar akun Threads ca***. Akun @bil**** menambahkan, “Kedzaliman kami??? Seolah-olah rakyat yang dzalim sehingga terjadi karhutla.”
Maia Estianty kemudian memutuskan menggembok akun Threads pribadinya, @maiaestiantyreal, pada 11 Oktober 2026. Langkah itu diambilnya setelah ramai dikecam netizen imbas utasnya tentang ‘rezeki’, ‘kerja keras’, dan ‘sedekah’.
“Melihat burung liar makan, (aku) berpikir memang benar (pernyataan yang mengatakan) semua makhluk hidup rezekinya ditanggung Allah,” ungkap istri Irwan Mussry tersebut dalam unggahannya.
Maia Estianty berpendapat, jika seseorang mengalami kesulitan finansial maka dia perlu bekerja keras dan meningkatkan ikhtiar melalui pekerjaan dan kebiasaan bersedekah.
“Burung juga kalau malas terbang enggak bakal dapat makanan. (Kalau) kita malas ya rezeki seret. Akan (semakin) seret lagi kalau enggak pernah bersedekah (dengan uang atau tenaga),” tuturnya menutup utas tersebut.
Utas Maia Estianty tersebut kemudian ramai dikomentari warganet. Sebagian menilai, aksi Maia Estianty membahas soal ‘kerja keras’ dan ‘sedekah’ menunjukkan ketidakberpihakannya kepada masyarakat. Dia dinilai, tak berempati dengan kondisi masyarakat saat ini.*
(SIS)