KEDIRI – Dunia spiritual kini turut merambah ruang digital. Media sosial dan aplikasi menjadi sarana baru bagi sejumlah pengajar spiritual untuk memperkenalkan ajaran mereka kepada masyarakat. Salah satunya Abdul Latif, atau yang dikenal sebagai Guru Sabdo Roso, pengajar kawruh Jawa asal Kabupaten Kediri, Jawa Timur, yang memanfaatkan platform digital untuk mengenalkan olah rasa dan pengetahuan batin.
Melalui akun media sosial, aplikasi, hingga grup belajar daring, Guru Sabdo Roso membagikan materi mengenai kawruh Jawa yang berfokus pada pengenalan diri dan pengembangan batin. Ia memandang teknologi sebagai sarana untuk memperluas jangkauan pembelajaran, tanpa mengubah esensi ajaran yang disampaikannya.
Di tengah maraknya konten spiritual di media sosial, Latif menegaskan bahwa kawruh Jawa yang diajarkannya bukanlah agama baru ataupun sarana untuk mengajak seseorang berpindah keyakinan. Sebaliknya, pengetahuan tersebut dapat dipelajari oleh siapa pun untuk memperdalam pemahaman terhadap diri sendiri dan agama masing-masing.
"Kawruh itu tidak mengajak orang pindah agama. Jaga agama warisan orang tua. Kawruh membantu kita lebih jernih menjalaninya," ujar Latif.
Ia menyebut ajarannya bersumber dari kitab tanpo tulis, yakni pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman batin dan pengamatan terhadap alam. Menurutnya, kawruh tidak cukup dipahami melalui teori, tetapi juga perlu dijalani melalui pengalaman langsung.
Mengenalkan Kawruh Jawa Lewat Platform Digital
Pemanfaatan teknologi menjadi salah satu cara Guru Sabdo Roso menjangkau masyarakat di luar lingkungan pembelajaran langsung. Ia membagikan materi melalui aplikasi Nafas Batin yang tersedia di Google Play Store, grup belajar terbuka, serta siaran langsung di TikTok melalui akun @nafas.batin.
Melalui berbagai platform tersebut, ia mengenalkan sejumlah praktik spiritual Jawa, mulai dari semedi suwung atau duduk hening, laku luhuring budi, hingga latihan pernapasan Nafas Roso dengan pola 4-4-6.
Latif juga menjelaskan konsep sedulur papat yang terdiri atas supiah, aluamah, amarah, dan mutmainah, serta pandangannya mengenai jiwa, sukma, dan ruh. Materi tersebut menjadi bagian dari pembelajaran olah rasa yang bertujuan membantu seseorang mengenali kondisi batinnya.
Menurut Latif, olah rasa bukan bertujuan menghilangkan seluruh dorongan manusia, melainkan mengelolanya agar tidak dikuasai oleh keakuan.
"Olah rasa itu seperti membersihkan cermin. Nafsu tidak dibunuh, tapi diemong. Yang dilebur cukup keakuan," jelasnya.
Tidak Menawarkan Spiritual Instan
Di tengah berkembangnya konten spiritual di media sosial, Latif mengaku memiliki batasan tersendiri dalam menyampaikan ajarannya. Ia tidak menjual doa maupun menawarkan layanan spiritual instan, seperti kuncian dan buka aura. Kegiatannya lebih berfokus pada pendampingan belajar semedi dan olah rasa.
"Daya itu bukan milik guru. Semua dipinjami Gusti. Kalau merasa punya kuasa sendiri, itu sudah sombong," tuturnya.
Ia juga menekankan bahwa praktik spiritual tidak boleh menggantikan penanganan medis. Untuk persoalan kesehatan, Latif meminta muridnya tetap berkonsultasi dan berobat kepada tenaga medis, sedangkan laku batin ditempatkan sebagai pendamping ikhtiar.
Selain itu, ia membuka akses pembelajaran secara gratis melalui sejumlah kanal digital. Pendekatan tersebut, menurutnya, sejalan dengan prinsip bahwa seorang guru seharusnya mendorong murid agar mampu belajar secara mandiri, bukan bergantung pada sosok pengajar.
"Guru yang baik itu membuat muridnya mandiri. Pada akhirnya setiap orang pulang ke dalam dirinya sendiri," kata Latif.
Kehadiran Guru Sabdo Roso di ruang digital menjadi salah satu contoh pemanfaatan teknologi untuk memperkenalkan kawruh Jawa kepada masyarakat yang lebih luas. Informasi mengenai kegiatan dan ajarannya dapat diakses melalui situs gurusabdoroso.id dan akun Instagram @gurusabdoroso.
(kha)