JAKARTA - Ada alasan mengapa lagu-lagu Meiska terasa begitu dekat dengan kehidupan anak muda. Bukan hanya karena melodinya mudah didengarkan, tetapi karena cerita di dalamnya seolah mewakili berbagai fase.
Lagu Meiska keral relevan dengan kisah seseorang berhadapan dengan perasaan, mulai dari ditinggalkan tanpa penjelasan, sulit melepaskan, hingga mencintai seseorang yang sejak awal mungkin tidak bisa dimiliki.
Sejak memperkenalkan diri lewat Hilang Tanpa Bilang pada 2022, Meiska konsisten menghadirkan lagu yang mengangkat sisi emosional kehidupan anak muda. Cerita yang dibawakan pun terasa dekat dengan pengalaman sehari-hari, seperti menunggu pesan yang tidak kunjung datang, mempertanyakan sikap seseorang, atau mencoba menerima hubungan yang tidak berjalan sesuai harapan.
"Lagu ini tentang perjuangan mempertahankan perasaan kepada seseorang yang mungkin tidak bisa membalasnya, hingga sebuah keinginan untuk memiliki seseorang yang sejak awal mungkin tidak seharusnya dimiliki," jelas Meiska.
Jika melihat perjalanan lagu-lagunya, Hilang Tanpa Bilang, Keras Kepala, hingga rilisan terbarunya, Ingin Kumiliki, seperti membentuk satu garis cerita tentang perjalanan seseorang ketika berhadapan dengan cinta.
Ketiganya memang memiliki kisah berbeda, tetapi sama-sama menggambarkan satu hal yang sangat manusiawi, yakni hati yang terkadang menginginkan sesuatu yang tidak bisa berjalan sesuai keinginan.
Hilang Tanpa Bilang, Pergi Tanpa Penjelasan
Perjalanan tersebut dimulai lewat Hilang Tanpa Bilang. Dirilis pada 2022, lagu ini mengangkat fenomena ghosting yang sangat dekat dengan kehidupan anak muda, ketika seseorang datang memberikan perhatian, menumbuhkan rasa, kemudian tiba-tiba menjauh tanpa memberikan penjelasan.
Tidak ada perpisahan yang jelas, tidak ada percakapan terakhir yang benar-benar menyelesaikan semuanya. Hanya ada seseorang yang mendadak kehilangan kabar, sementara orang yang ditinggalkan harus menghadapi berbagai pertanyaan seorang diri.
Kesederhanaan cerita tersebut justru membuat Hilang Tanpa Bilang terasa dekat dengan banyak pendengar.
"Karena terkadang, hal yang paling sulit dari sebuah hubungan bukanlah kehilangan seseorang, melainkan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan penjelasan," sambung Meiska.
Meiska sendiri pernah mengungkapkan dirinya merasa langsung terhubung ketika pertama kali mendengar lagu tersebut karena pernah mengalami kisah serupa. Pengalaman personal itu kemudian membantunya menyampaikan emosi lagu secara lebih tulus.
Dari Hilang Tanpa Bilang, Meiska mulai memperlihatkan salah satu kekuatannya sebagai penyanyi, yakni membuat cerita yang sangat personal terasa universal.
Keras Kepala, Saat Akal Tahu Harus Pergi
Setelah bicara tentang ditinggalkan tanpa kejelasan, Meiska membawa pendengarnya ke fase berikutnya melalui Keras Kepala.
Jika Hilang Tanpa Bilang menggambarkan seseorang yang ditinggalkan secara tiba-tiba, Keras Kepala bercerita tentang kondisi ketika seseorang sebenarnya sudah mengetahui hubungan tersebut mungkin tidak akan berakhir sesuai harapan, tetapi masih memilih bertahan.
Ada kesadaran jika hubungan itu mungkin tidak sehat untuk diteruskan, tetapi hati masih mencari alasan untuk mempertahankannya. Tahu harus pergi, tetapi masih berharap. Tahu hubungan tersebut mungkin tidak memiliki masa depan, tetapi masih mencoba. Tahu harus berhenti, tetapi hati belum siap melepaskan.
"Karena pada akhirnya, banyak orang pernah menjadi “keras kepala” ketika berurusan dengan perasaan," jelas wanita asal Bali tersebut.
Keras Kepala pun menjadi lebih dari sekadar lagu tentang seseorang yang sulit melupakan mantan kekasih. Lagu tersebut menggambarkan fase ketika akal sudah memahami kenyataan, tetapi hati masih ingin memperjuangkan sesuatu yang mungkin sebenarnya sudah waktunya dilepaskan.
Ingin Kumiliki, ketika Takdir Berkata Berbeda
Kini, Meiska membawa cerita tersebut ke babak berbeda lewat Ingin Kumiliki.
Lagu yang sebelumnya dipopulerkan Ruth Sahanaya tersebut merupakan karya ciptaan Tohpati. Dalam versi terbaru, Tohpati kembali menggarap lagu tersebut dengan aransemen yang lebih modern dan menggandeng Meiska sebagai vokalis.
Ingin Kumiliki menghadirkan cerita cinta yang lebih kompleks. Ada keinginan besar terhadap seseorang, tetapi di saat yang sama terdapat kesadaran jika orang tersebut mungkin memang tidak bisa dimiliki.
Bagi Meiska, membawakan lagu ini juga menjadi tantangan tersendiri karena cerita di dalamnya bukan pengalaman yang pernah ia alami secara langsung. Ia harus menemukan cara untuk memahami emosi karakter dalam lagu tersebut, salah satunya dengan membayangkan perasaan ketika sangat menyayangi seseorang, tetapi mengetahui hubungan itu tidak mungkin terjadi.
Di sinilah Ingin Kumiliki menjadi menarik dalam perjalanan musik Meiska. Jika Hilang Tanpa Bilang berbicara tentang ditinggalkan dan Keras Kepala bercerita tentang sulit melepaskan, Ingin Kumiliki menghadirkan cerita tentang menginginkan seseorang yang mungkin sejak awal tidak dapat menjadi milik kita.
Tiga lagu dengan cerita berbeda tersebut akhirnya bertemu dalam satu emosi yang sama: hati menginginkan sesuatu yang tidak selalu bisa didapatkan.
Dari Ruth Sahanaya ke Meiska, Lagu Lama Rasa Baru
Di balik Ingin Kumiliki, terdapat cerita lain yang membuat lagu tersebut semakin penting bagi perjalanan Meiska. Lagu ciptaan Tohpati itu memiliki sejarah panjang dan sebelumnya dikenal melalui versi Ruth Sahanaya.
Kini, lebih dari dua dekade kemudian, Ingin Kumiliki mendapatkan interpretasi baru melalui suara Meiska. Proses tersebut menjadi pertemuan dua generasi sekaligus menunjukkan bagaimana sebuah karya dapat terus hidup ketika dibawakan kembali oleh penyanyi dengan karakter berbeda.
Bagi Meiska, tantangannya tentu tidak sederhana karena pendengar sudah memiliki ingatan terhadap versi sebelumnya. Namun, ia tidak mencoba menggantikan versi Ruth Sahanaya, melainkan memberikan interpretasi sesuai karakter vokal dan emosinya sendiri.
"Membawakan kembali lagu yang sudah memiliki sejarah berarti harus berhadapan dengan ekspektasi pendengar yang telah mengenal versi sebelumnya. Namun, alih-alih mencoba menggantikan versi Ruth Sahanaya, Meiska memilih memberikan interpretasinya sendiri," kata Meiska.
Hasilnya menjadi sebuah pertemuan antara nostalgia dan generasi baru. Pendengar yang sudah mengenal Ingin Kumiliki melalui Ruth Sahanaya mendapatkan perspektif baru, sementara generasi muda memiliki kesempatan mengenal salah satu karya Tohpati melalui suara Meiska.
Kekuatan lagu-lagu Meiska mungkin justru terletak pada kenyataan jika tidak semua pendengarnya mengalami cerita yang sama. Mereka hanya menemukan emosi yang sama dalam situasi berbeda.
Mereka yang pernah di-ghosting dapat menemukan kisahnya dalam Hilang Tanpa Bilang. Mereka yang masih bertahan dalam hubungan meski tahu harus pergi bisa merasa terwakili oleh Keras Kepala. Sementara mereka yang pernah menyukai seseorang yang tidak mungkin dimiliki dapat menemukan perasaannya dalam Ingin Kumiliki.
Situasinya berbeda, tetapi emosinya familiar.
Ketika sebuah lagu mampu memberikan bahasa untuk sesuatu yang sulit dijelaskan, hubungan antara penyanyi dan pendengar menjadi lebih personal. Lagu tersebut akhirnya bukan lagi sekadar karya milik penyanyi, melainkan ikut menjadi bagian dari cerita orang-orang yang mendengarkannya.
Pada akhirnya, perjalanan musik Meiska menarik untuk diikuti karena ia tidak hanya menyanyikan lagu tentang cinta, tetapi juga menghadirkan cerita tentang apa yang terjadi kepada seseorang ketika sedang mencintai.
Tentang bagaimana rasanya ketika seseorang pergi tanpa penjelasan, bagaimana sulitnya berhenti berharap, bagaimana seseorang tetap bertahan meski tahu harus melepaskan, hingga bagaimana rasanya menginginkan seseorang yang mungkin tidak pernah bisa dimiliki.
Lewat lagu-lagu tersebut, Meiska perlahan membangun identitas sebagai penyanyi yang mampu mengubah berbagai cerita emosional menjadi lagu yang terasa dekat dengan pendengarnya.
Tidak mengherankan jika lagu-lagu Meiska kemudian menemukan tempat sebagai soundtrack bagi berbagai fase kehidupan anak muda.
(kha)