“Jadi sebenarnya bukan seperti, ‘Oh, awalnya aku sedih, terus akhirnya aku bahagia.’ Lebih kepada aku mencari tahu pola yang terus berulang itu. Aku mencoba membongkar kenapa hal ini bisa terjadi.”
Salah satu fase tersebut tergambar dalam lagu Semoga Nanti. Menurut Aruma, lagu ini menjadi gambaran ketika dirinya mulai menyadari adanya persoalan keterikatan emosional dalam hubungan.
“Terus di lagu Semoga Nanti, itu adalah fase ketika aku mulai menyadari ada masalah keterikatan emosional dalam hubungan. Karena aku sudah sangat damai dengan diriku sendiri.”
Setelah hampir tiga tahun sendiri, Aruma justru merasa sudah cukup dengan kehidupannya. Ia mulai menikmati kemandirian dan kebahagiaan yang dibangun tanpa bergantung kepada orang lain.
Harapan itu kemudian dituangkan Aruma melalui Lagu Semoga Nanti. Ia menggambarkan keinginannya untuk bertemu seseorang yang tetap berusaha menemukannya meski dirinya memilih bersembunyi.
Aruma menyadari dirinya kerap memilih mundur ketika sebuah hubungan mulai terasa sulit. Namun, ia masih membuka kemungkinan untuk kembali percaya kepada cinta jika suatu saat ada seseorang yang benar-benar berusaha hadir dalam hidupnya.
“Tapi kalau suatu saat ada seseorang yang benar-benar mengetuk pintuku dengan keras, bahkan berusaha menemukan aku ketika aku bersembunyi, mungkin aku bisa percaya lagi kalau aku masih bisa menerima cinta.”