Di sisi bisnis, CFO DMS+ Teguh Arifianto menyebut penguatan IP Management sebagai salah satu fondasi pengembangan pada 2027. Sistem tersebut ditujukan untuk mengelola hak cipta dan aset kreatif agar dapat dikembangkan, dilisensikan, serta dimonetisasi secara berkelanjutan.
Roadmap tersebut kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai kerja sama DMS+ dengan sejumlah mitra, termasuk Sinemaku Pictures dan Motorola Indonesia.
Demian menilai kolaborasi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya memperbesar skala DMS+. Salah satu kolaborasi dengan Sinemaku Pictures diwujudkan melalui film layar lebar “Memburu Pemangsa”, yang dijadwalkan tayang di bioskop pada 24 September 2026.
Namun, bagi DMS+, pengembangan ekosistem horor menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan menuju 2027. Dengan konsep horrortainment, platform tersebut ingin bergerak dari sekadar identitas konten menuju ekosistem yang dapat menaungi lebih banyak kreator dan format hiburan berbasis horor.
(kha)