CEO Friends of Palestine, Rayyan Abdalla, menilai musisi memiliki peran penting dalam menjaga perhatian dunia terhadap Palestina. Ia percaya seni dapat menjadi sarana untuk menyuarakan kebenaran dan kemanusiaan.
"Di saat kekuasaan terlalu sering digunakan untuk membungkam kebenaran, kami memilih musik untuk menjadi kekuatan kami demi membebaskan bangsa. Seni suatu hari nanti akan menjadi pintu bagi kebebasan, pintu untuk berbagi kebenaran, dan pintu untuk berbagi kemanusiaan," ujar Rayyan Abdalla.
Musisi asal Malaysia, Noh Salleh, juga mengungkapkan pandangannya tentang proyek ini. Menurutnya, kolaborasi tersebut berhasil menyatukan Indonesia dan Malaysia dalam tujuan yang sama.
"Sebenarnya Palestina yang sedang membebaskan kita, bukan kita membebaskan Palestina. Indonesia dan Malaysia mungkin sering terpisah karena urusan mie goreng atau rendang, tapi hari ini kita bersatu karena Palestina untuk menghidupkan kemanusiaan," tegasnya.
Proses pembuatan lagu dilakukan selama satu bulan dengan sistem jarak jauh. Rekaman vokal dikerjakan di studio yang berada di Indonesia dan Malaysia.