"Sebagian besar instrumen musik seperti alat musik, microphone, kabel, sound system, dan lainnya banyak yang merupakan barang impor dan penjualannya menggunakan mata uang asing. Dengan begini berarti musisi dan vendor juga akan keluar lebih banyak biaya dari sebelumnya untuk perawatan dan pembelian instrumen baru," katanya.
Tak hanya soal alat, Dipa juga menyoroti potensi kenaikan biaya produksi konser yang pada akhirnya bisa membebani kantong para penikmat musik di tanah air.
"Pasti ada peningkatan biaya untuk mengadakan konser dengan spesifikasi yang biasa digunakan, dan dari hal itu akan berpengaruh ke daya beli penonton untuk menikmati konser-konser di Indonesia," ucap Dipa.
Meski demikian, ia berharap industri musik tetap mendapat dukungan karena perannya yang vital bagi ekonomi nasional.
"Harapannya karena industri musik ini sebagai subsektor dalam ekosistem ekonomi kreatif, diharapkan bisa mendorong stabilitas ekonomi yang mampu menciptakan efek besar bagi berbagai sektor, seperti pariwisata, transportasi, akomodasi, UMKM lokal, vendor dan lainnya," tuturnya.
(ant)