JAKARTA – Nama Cécil Yang mulai dikenal lewat sebuah cover lagu. Namun, cover tersebut ternyata hanya menjadi titik awal perjalanan Cécil di dunia musik.
Berawal dari membawakan Dat $tick milik Rich Brian, Cécil perlahan membangun identitasnya sendiri sebagai rapper dan artist. Ia kemudian mulai merilis karya original, masuk ke industri musik profesional, hingga memperluas eksplorasi melalui berbagai kolaborasi di dunia kreatif.
Perjalanan tersebut membuat Cécil Yang menarik untuk diperhatikan. Bukan hanya karena musik yang ia hadirkan, tetapi juga kemampuannya menemukan ruang baru untuk berekspresi.
Jauh sebelum bergabung dengan label, Cécil lebih dulu memperkenalkan dirinya melalui internet. Salah satu momen yang membuat namanya mulai diperhatikan adalah ketika ia membawakan cover Dat $tick milik Rich Brian.
Saat itu, lagu tersebut menjadi salah satu karya yang memperkuat gelombang baru hip-hop Asia. Cécil kemudian menjadikan momentum tersebut sebagai langkah awal untuk membangun perjalanannya sendiri.
Ia tidak berhenti sebagai performer yang membawakan karya orang lain. Cécil mulai menciptakan musik original dan merilis sejumlah single, salah satunya Rum Pum Pum. Karya-karya tersebut menjadi bagian dari proses Cécil dalam menemukan karakter dan identitas musiknya.
Dari sini, perjalanan Cécil perlahan berubah. Ia bukan lagi hanya dikenal karena membawakan lagu milik orang lain, tetapi mulai memiliki karya yang membuat pendengar datang untuk mendengarkan dirinya.
Babak baru dalam perjalanan Cécil hadir ketika dirinya bergabung dengan Sony Music dan merilis single debut profesional Djakarta bersama Diskoria dan Laleilmanino.
Kolaborasi tersebut mempertemukan energi hip-hop yang dibawa Cécil dengan karakter musik Diskoria dan Laleilmanino yang memiliki pendekatan pop, elektronik serta elemen lokal.
Djakarta kemudian menjadi pertemuan berbagai warna musik dalam satu karya yang mengangkat Jakarta. Bagi Cécil, kolaborasi tersebut sekaligus memperlihatkan kemampuannya bergerak lebih luas dari satu genre maupun satu scene.
Cécil tidak harus memilih antara menjadi rapper atau masuk ke kultur musik yang lebih luas. Justru pertemuan berbagai dunia tersebut mulai membentuk identitasnya sebagai seorang artist.
“Hip hop itu saya kenal sejak 2019, 2020. Saat saya menulis lagu, banyak energi yang tersalurkan. Di hiphop, banyak lirik yang membuat energi saya lebih terfokus dan padat,” ujar Cécil dalam wawancara beberapa waktu lalu.
Setelah Djakarta, Cécil kembali memperlihatkan sisi lain melalui karya seperti 321 dan Call It Love.Jika karya-karya sebelumnya lebih memperkenalkan Cécil sebagai rapper, fase ini mulai menunjukkan dirinya sebagai seorang artist yang lebih leluasa mengeksplorasi mood, melodi, style hingga storytelling.
Perkembangan tersebut kemudian membawa Cécil masuk lebih jauh ke creative scene. Kolaborasinya bersama ASICS menjadi salah satu contoh ketika musik Cécil diterjemahkan ke dalam pengalaman visual dan campaign. Tidak hanya hadir sebagai wajah brand, Cécil terlibat dalam campaign yang kemudian berkembang hingga ASICS memproduksi video musik untuk Call It Love.
Kolaborasi tersebut memperlihatkan bagaimana musik Cécil mulai memiliki daya tarik yang dapat diterjemahkan ke dalam visual, fashion dan lifestyle.
Eksplorasi Cécil kemudian semakin luas ketika Somethinc membuka ruang kolaborasi dengannya. Dalam campaign tersebut, Cécil dipertemukan dengan Janita Gabriela dan produser musik elektronik Dipha Barus. Kolaborasi ini tidak hanya hadir sebagai materi komunikasi brand, tetapi juga diwujudkan melalui single khusus dan video musik.
Pertemuan tersebut membawa Cécil ke beberapa ruang kreatif sekaligus, mulai dari musik, beauty, lifestyle hingga creative direction.
Jika kolaborasinya bersama ASICS membawanya lebih dekat dengan kultur sneakers dan fashion, kerja sama bersama Somethinc memperluas langkah Cécil ke dunia beauty dan lifestyle. Meski bergerak di berbagai ruang, musik tetap menjadi titik tengah dari eksplorasi tersebut.
Melihat perjalanan Cécil Yang dari awal hingga sekarang, terdapat pola yang cukup jelas dalam perkembangannya. Ia memulai perjalanan melalui kultur internet dan hip-hop, kemudian menciptakan karya sendiri dan masuk ke industri musik profesional bersama Sony Music.
Setelah itu, Cécil berkolaborasi dengan nama seperti Diskoria dan Laleilmanino. Musik juga membawanya bertemu dengan brand seperti ASICS dan Somethinc, sekaligus mempertemukannya dengan sosok kreatif seperti Dipha Barus dan Janita Gabriela.
“Jadi rapper perempuan itu nggak gampang tapi nggak susah. Ada feeling, 'masa gua gak bisa sih, masa cowok doang'. Karena passion dari kecil jadi ngejalaninnya nggak sesusah yang dibayangkan. Didukung kru juga jadi perasaannya lebih relaks aja,” jelasnya.
Perjalanan tersebut menunjukkan Cécil tidak hanya membangun dirinya sebagai seorang rapper. Ia sedang membentuk identitas sebagai artist yang dapat bergerak di antara musik, style, visual, culture dan brand.
Di situlah salah satu daya tarik Cécil Yang saat ini. Ketika seorang artist mampu membawa musiknya ke berbagai ruang kreatif tanpa kehilangan identitas, ia tidak hanya menjadi bagian dari sebuah scene.
Ia mulai memiliki daya untuk menggerakkan scene tersebut. Setelah Rich Brian, Diskoria, ASICS, Somethinc, Janita Gabriela dan Dipha Barus, menarik untuk melihat ke mana langkah Cécil Yang berikutnya akan membawa dirinya.
(kha)
Celebrity Okezone menghadirkan berita terbaru, eksklusif, dan terpercaya seputar artis dalam dan luar negeri