nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cegah Kekerasan pada Anak, WVI Rilis Enam Film Pendek

Sarah Hutagaol, Jurnalis · Minggu 02 Desember 2018 21:10 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 12 02 206 1985842 cegah-kekerasan-pada-anak-wvi-rilis-enam-film-pendek-nzD5U1nn47.jpg Perwakilan Wahana Visi Indonesia dalam perilisan enam film pendek tentang kekerasan anak. (Foto: Okezone/Sarah Hutagaol)

JAKARTA - Organisasi pemerhati anak, Wahana Visi Indonesia (WVI), mengaku prihatin dengan angka kekerasan terhadap anak yang mencapai 20.000 kasus sepanjang tahun 2011-2016. Untuk menekan kasus tersebut, WVI pun menayangkan enam film pendek yang menggambarkan berbagai kasus kekerasan terhadap anak.

Menariknya, keenam film tersebut digarap langsung oleh anak-anak yang berada di kawasan Jatinegara, Kamal Muara, dan Penjaringan. Pihak Wahana Visi Indonesia mengaku memiliki alasan tersendiri kenapa melibatkan anak secara langsung dalam kampanye itu.

Baca juga: Gara-Gara Gaun Transparan, Aktris Seksi Asal Mesir Ini Terancam 5 Tahun Penjara

“Itu karena anak ada di dalam masyarakat. Mereka melihat langsung kekerasan yang terjadi kepada teman-temannya. Bahkan mungkin ada kasus (kekerasan) yang mereka alami sendiri,” ujar Asih Silawati saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (2/12/2018).

Atas alasan itulah, menurut Asih, pihaknya menjadikan anak sebagai bintang utama dalam film-film tersebut. “Untuk pembuatan enam film ini, ada sekitar 30 anak yang terlibat. Mereka juga terlibat secara profesional dalam film ini dengan turun tangan dalam tahap penyuntingan film,” katanya.

Dengan dirilisnya enam film ini, Irene Marbun Operations Director Wahana Visi Indonesia berharap dapat menggugah kesadaran masyarakat tentang pentingnya pencegahan kekerasan terhadap anak. “Tujuan utamanya agar semakin banyak orang yang sadar dan terlibat dalam pencegahan kekerasan terhadap anak,” ungkap Irene.

Enam film yang dibuat oleh anak-anak tersebut memiliki tema-tema tersendiri. Film pertama yang berjudul Sari misalnya, berkisah tentang perkawinan anak, sedangkan Sahabat Sunyi bertutur tentang perundungan dan disabilitas.

Baca juga: Putuskan Cerai, Gisel Sempat Galau Lihat Instagram Donna Agnesia

Selanjutnya ada Perahu Tak Sampai yang menggambarkan sebuah kawasan tak ramah anak. Terdapat pula PAP Please yang mengangkat tema soal kekerasan seksual anak di ranah daring.

Sementara itu, dua judul lainnya: Ngintip dan Ngehits, masing-masing berkisah tentang kekerasan seksual dan perundungan daring.*

(SIS)

BERITA FOTO
+ 5

Ketika Pakaian Korban Kekerasan Seksual Dipamerkan di Bangkok Thailand

Pengunjung memperhatikan salah satu pakaian yang dikenakan korban kekerasan seksual yang dipamerkan di Bangkok, Thailand, Jumat 29 Juni 2018. (Rina Chandran/Thomson Reuters Foundation)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini