nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

MOVIE REVIEW: Venom dan Kisah Awal Symbiote Hitam di Muka Bumi

Ady Prawira Riandi, Jurnalis · Rabu 03 Oktober 2018 12:23 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 10 03 206 1959029 movie-review-venom-dan-kisah-awal-symbiote-hitam-di-muka-bumi-WHaUczZORY.jpg Venom (Foto: Sony Pictures)

JAKARTA – Memasuki semester akhir 2018, tren perfilman Hollywood tampaknya akan mulai bergeser pada pengembangan film-film spin-off penjahat dari sebuah franchise superhero. Demi menjangkau pasar yang lebih luas, beberapa rumah produksi bahkan rela membuatkan film khusus untuk para tokoh penjahatnya ini. Fenomena tersebut terbilang wajar mengingat para penonton sudah cukup kenyang disuguhkan dengan film-film pahlawan yang tak ada habisnya.

Suicide Squad dari WB dan DC Comics mungkin bisa dibilang sebuah proyek yang kurang bersinar saat mencoba menampilkan para penjahat sebagai bintang utamanya. Namun, proyek ini justru menjadi sebuah ide segar karena menawarkan cerita berbeda kepada para penikmat film. Kegagalan Joker dkk justru dilihat sebagai sebuah peluang bisnis besar bagi sebagian orang perfilman yang tahu bahwa ada begitu banyak tokoh penjahat keren yang bisa diangkat ceritanya ke layar lebar.

(Baca Juga: Selamat! Abi Juara KDI 2018)

(Baca Juga: Jaga Pocong Jadi Film Horor Perdana Acha Septriasa)

Tom Hardy sebagai Venom, Foto: Sony Pictures

Pada awal tahun 2017, Sony Pictures pun akhirnya mengumumkan proyek film Venom, salah satu tokoh penjahat yang datang dari dunia Spider-Man. Keputusan Sony ini terbilang cukup pintar dan jeli. Mereka memanfaatkan peluang kecil karena pada saat bersamaan hak cipta Spidey sedang dipinjam oleh Disney untuk mengembangkan cerita mereka ke dalam Infinity War.

Sony melanjutkan langkah mereka dengan menggaet aktor sekelas Tom Hardy untuk membintangi film Venom. Bermodalkan cerita terdahulu dari Spider-Man (2007), sosok Symbiote hitam kejam ini lalu dikembangkan menjadi sebuah film yang bisa berdiri sendiri.

Dalam film ini Tom berperan sebagai Eddie Brock, seorang jurnalis yang tengah melakukan investigasi terhadap sebuah laboratorium milik Carlton Drake (Riz Ahmed). Di saat bersamaan, Carlton menemukan Symbiote hitam dari ruang angkasa yang dipercaya memiliki kehidupannya sendiri. Carlton dan timnya pun lalu mencari cara agar bisa menggabungkan manusia dengan Symbiote. Singkat cerita, kecelakaan kecil terjadi sehingga mengakibatkan Symbiote itu masuk ke tubuh Eddie dan mengubahnya menjadi Venom.

Sutradara Ruben Fleischer patut mendapat acungan jempol atas hasil akhir Venom. Meski tempo cerita pada setengah jam awal berjalan cukup lambat, Ruben tetap bisa dimaafkan. Upayanya untuk menceritakan latar belakang Venom dengan sangat jelas dirasa berguna ketika cerita memasuki bagian tengah dan akhir.

Kendati masuk dalam kategori sebuah film laga, Venom nyatanya tetap menjadi sebuah film yang menghibur. Gaya komedi yang ditampilkan di film ini cukup seru dan mampu mengundang gelak tawa penonton. Semua itu tak lepas dari akting mumpuni yang dimiliki oleh Tom Hardy. Percakapan antara dirinya dan Venom adalah formula efektif yang bisa membuat satu studio bergemuruh.

Venom

Keputusan Sony memilih Tom Hardy sebagai pemeran utama memang merupakan sebuah keputusan terbaik. Aktor asal Inggris ini bahkan mampu melepaskan aksen British-nya untuk bertransformasi menjadi Eddie yang notabene adalah seorang warga Amerika. Kualitas akting Tom semakin terbukti ketika ia berulang kali mampu menerjemahkan ekspresi mimik muka yang pas dalam beberapa situasi dan kondisi yang berbeda.

Sementara itu dari segi visual, efek yang ditampilkan di film ini secara mengejutkan terasa sangat memuaskan. Adegan kejar-kejaran di jalanan, transformasi Eddie menjadi Venom, hingga pertarungan sebagai Symbiote mampu membuat mata penonton tetap fokus ke layar.

Satu-satunya kekurangan Venom mungkin terletak pada sumber cerita aslinya. Dengan rumitnya perjanjian hak cipta Marvel di antara Sony dan Disney, beberapa penikmat komiknya akan memiliki banyak pertanyaan. Namun jika mengesampingkan hal itu, cerita utuh dari film Venom masih tetap bisa dinikmati. Pada dasarnya, Sony ingin mengungkap kisah awal bagaimana Symbiote hitam ini bisa masuk ke Bumi. Dan target utama mereka dalam menceritakan maksudnya itu tersampaikan.

Okezone memberikan nilai 7,5 untuk film Venom. Dengan segala kelebihannya, Venom sepertinya akan melejit menjadi sebuah film box office dengan pendapatan tinggi. Kesuksesan Venom juga bisa mengetuk rumah produksi lain untuk mengangkat cerita-cerita para penjahatnya, alih-alih terus mengeksplorasi kisah para superheronya.

Jangan lupa saksikan Venom yang mulai tayang di Indonesia sejak hari ini, Rabu (3/10/2018). Sama seperti film Marvel lainnya, ada dua post-credit yang akan sangat sayang jika Anda lewatkan.

(aln)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini