Share

Nilai Sahabat Main di Panggung Internasional, Dewa Budjana: Bunyi Dia Bunyinya Indonesia

Dewanto Kironoputro, Okezone · Senin 02 Oktober 2017 17:57 WIB
https: img.okezone.com content 2017 10 02 205 1787204 nilai-sahabat-main-di-panggung-internasional-dewa-budjana-bunyi-dia-bunyinya-indonesia-EMLfp9s8ZO.jpg Dewa Budjana dan Saat Syah (Foto: Dudit/Okezone)

JAKARTA - Saat Syah jadi senjata rahasia Dewa Budjana untuk unjuk kekhasan musik Indonesia di Eropa. Keduanya pun yakin kolaborasi dengan gitaris asal Inggris, Nicolas Meier, tidak akan memudarkan warna lokal yang akan mereka bawakan.

- Baca Juga: Suka Duka Nadhia Jadi Vokalis Baru HIVI!

Hal itu memang jadi pertimbangan utama Budjana saat memboyong Saat masuk Meier-Budjana Group. Dijelaskan Budjana, Saat adalah seorang musisi suling asal Kalimantan yang sibuk tampil di berbagai panggung, on-air maupun off-air. Gayanya yang tergolong tegas dengan suling khasnya yang berbahan paralon membuat Budjana menilai Saat sudah layak go-internasional bersamanya.

“Buat saya sih (Saat) salah satu yang layak saya bawa keluar, karena bisa untuk dilirik. Indonesia nih, gitu. Karena bunyinya tuh bunyinya Indonesia. Sulingnya dia bikin sendiri juga,” ucap Budjana dalam jumpa pers di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang, Minggu (1/10/2017).

Lebih lanjutnya, rupanya Saat sudah menemani Budjana sejak Budjana memulai karier solo di tahun 2000an. Suara-suara suling di lagu-lagu instrumental Budjana pun berasal dari sulingnya.

Soal perbedaan musik Indonesia dengan Barat, Saat menilai kepekaan terhadap nada di musik khas Indonesia jauh lebih hebat. Suling miliknya bisa bersuara lebih “centil” dibandingkan flute dari Barat. Pasalnya, nada-nada bertingkat ¼ di sulingnya tidak tersedia di flute Barat yang paling rapat hanya 1 semitone atau ½ nada. Saat mengaku, sulingnya akan sering fals jika tidak benar-benar disatukan dengan instrumen Barat, tentunya dengan berlatih lagi dengan rekan-rekannya nanti, termasuk Jimmy Haslip (bass) dan Asaf Sirkis (drum).

- Baca Juga: Keseruan Ezra 'HiVi!' Produseri Album Teater Musikal "Petualangan Sherina"

“Kebanyakan di Indonesia, kita terkenal dengan nada ¼. Jadi di keyboard itu tidak ada, kalau orang Eropa ngomongnya fals. Nah kita biasa main ¼, sementara kita harus main dengan keyboard. Kita harus mengulik terus, dan (menyesuaikan) itu sebenernya (dari) ide. Kuncinya, skill sama wawasan,” ucap Saat di kesempatan yang sama.

“Karena suling itu beda sama flute. Kalau flute itu (rentang nadanya) lebar, luas, notnya banyak. Cuma dia tidak bisa centil. Jadi aku bilang flute terlalu polos. Kalau untuk suling, itu gila, centil, semua ada,” lanjutnya menjelaskan.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

(edi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini