Image

Mengharukan, Kisah Nyata Dibalik Lagu Maturnuwun Simbah

krjogja.com, Jurnalis · Selasa 18 April 2017, 12:45 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 04 18 205 1670290 mengharukan-kisah-nyata-dibalik-lagu-maturnuwun-simbah-OLSl2ZIroq.jpg

YOGYAKARTA - Antoon Sisal, pencipta lagu Maturnuwun Simbah, mengisahkan cerita mengharukan di balik lagu yang dibuatnya 26 tahun silam.

Ternyata, lagu tersebut merupakan bentuk ungkapan terimakasihnya pada sang nenek yang tahun 1954 lalu dipaksa berangkat ke (Guyana Belanda) Suriname mengikuti program Belanda dengan meninggalkan sanak keluarga di Banyumas.

Lirik lagu Maturnuwun Simbah ini sekilas memang terkesan begitu sederhana layaknya lagu Bahasa Jawa yang kini sering dikoplokan oleh Orkes Melayu. Namun ketika melihat lebih dalam di mana pengalaman tersebut benar-benar dialami simbah putri dari Antoon dan mungkin semua orang Jawa yang ikut imigrasi ke Suriname tentu saya menjadi hal yang sangat luar biasa dan mengharukan.

"Yen eling lelakone Simbah, ninggal Njawa tekan Surineme. Kaningaya tenan nggolek sandang pangan ngrasakke kasangsaran. Negakake bapa lan biyung kaya ngapa lih pada bingung. Sedih njroning ati nganti tekan pati priye ora ngerti. Maturnuwun simbah, simbah kuwat nyangga senajan kelara-lara. 'Maturnuwun Simbah aku ora bisa mbales apa-apa. Kangelan nggonku nyritakake, kangelan nggonku ndunungake. Lakone wong Jawa, dikontrak wong Landa sapa ra sedih ngrasake. Nanging wes aja noleh mburi, jaman kui wis diliwati. Hayuk bebarengan numpak kapal layar menyang kemajuan'.

Itulah lirik yang dibuat Antoon saat berada di Suriname 26 tahun lalu setelah mendengarkan cerita Simbah Putrinya kala itu. Antoon menceritakan, kala itu simbahnya yang baru saja menikah dipengaruhi orang untuk ikut ke Suriname.

"Waktu itu di guna-guna orang terus begitu saja ikut ke Surimane, padahal di Jawa sudah enak dan usianya masih sangat muda. Di Suriname simbah harus berjuang bekerja membuka lahan, mengalami masa tidak enak dan lagu ini saya buat sebagai ungkapan terimakasih pada simbah," ungkapnya dengan Bahasa Jawa.

Sudah enam kali Antoon ke Indonesia untuk melihat tanah kelahiran almarhum Simbah Putrinya tersebut di Banyumas dan ia selalu saja ingin kembali untuk merasakan nostalgia.

"Saya ingin mengajak juga dalam lagu itu untuk melupakan bagaimana jengkelnya kita pergi ke Suriname meninggalkan sanak saudara dan tanah kelahiran, tapi bagaimana kasih sayang simbah itu yang ingin sekali saya ingatkan," imbuhnya.

Antoon pun berharap, rekan-rekannya yang merupakan keturunan Jawa di manapun berada untuk mengingat hal baik nenek moyangnya yang dahulu berjuang untuk kehidupan mereka. "Jangan ingat buruknya tapi bagaimana kasih sayang nenek moyang kita, itu paling penting," pungkasnya.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini