nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Hanung Bramantyo Sesalkan Minimnya Jumlah Layar Bioskop di Indonesia

Ady Prawira Riandi, Jurnalis · Selasa 21 Maret 2017 20:06 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 03 21 206 1648579 hanung-bramantyo-sesalkan-minimnya-jumlah-layar-bioskop-di-indonesia-pZx1UC8vLk.jpg Hanung Bramantyo (Foto: Ady/Okezone)

JAKARTA - Tidak semua rakyat Indonesia yang tersebar dari Sabang sampai Merauke dapat menikmati film sebagai hiburan. Minimnya jumlah bioskop di Indonesia masih menjadi problematika yang harus dipecahkan oleh Pemerintah Indonesia.

Menurut Hanung Bramantyo, jumlah layar yang dimiliki Indonesia saat ini masih jauh dari kata cukup. Seribu layar masih belum bisa mencakup masyarakat-masyarakat, khususnya yang ada di daerah kecil, Indonesia yang tersebar di setiap provinsi.

"Salah satu yang dibutuhkan perfilman nasional adalah bioskop atau jumlah layar. Sekarang jumlah layar ada seribu sementara di India ada lebih dari 4 ribu layar. Korea penduduknya 30 juta aja punya 4 ribu layar, kita yang penduduknya 250 juta cuma punya seribu layar. Buat saya itu menyedihkan, mestinya kita punya 10 ribu layar," tegas Hanung saat ditemui di Jakarta Pusat, Selasa (21/3/2017).

Hanung pun membenarkan bahwa pemerintah sudah berupaya untuk melakukan perubahan pada titik masalah tersebut. Namun sayangnya, bioskop saat ini sangat identik dengan pusat perbelanjaan atau mall sehingga tidak ada investor yang mau membangun bioskop di luar mall.

Masyarakat Indonesia cenderung lebih memilih pergi ke sebuah mall yang memiliki fasilitas lengkap daripada hanya pergi ke sebuah gedung bioskop. Oleh karena itu, pola pikir membangun bioskop tanpa mall hingga saat ini tak bisa dipecahkan bahkan oleh pemerintah sendiri.

"Salah satu yang harus disupport pemerintah adalah membangun bioskop baru, membuka investasi-investasi baru, itu sebenarnya udah dilakukan cuma gak ada yang tertarik karena pembangunan bioskop itu seiring dengan pembangunan mall. Sementara mall itu sendiri merusak pasar," sambungnya.

Namun Hanung merasa cukup bangga dengan adanya upaya pemerintah dalam membangun industri perfilman nasional. Ia sangat berharap kepada Badan Perfilman Nasional (BPI) dan Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) agar bisa terus meningkatkan perfilman nasional.

"Buat saya pemerintah sudah memberikan upaya dengan cara membentuk Badan Perfilman Indonedia BPI, yang kemarin baru saja menggelar kongres dan mengangkat ketua barunya, dan BEKRAF Badan Ekonomi Kreatif. Tinggal bagaimana BEKRAF dan BPI berupaya membangun perfilman nasional," tutupnya.

(edh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini