Image

FOTO: Ahmad Dhani Keluhkan Pencitraan Politik ala K-Pop di Indonesia

Dewanto Kironoputro, Jurnalis · Senin 20 Maret 2017, 01:23 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 03 20 33 1646830 foto-ahmad-dhani-keluhkan-pencitraan-politik-ala-k-pop-di-indonesia-J9Gyulq2Cr.jpg Ahmad Dhani (Foto: Okezone)

JAKARTA – Menjadi aktor politik, rupanya Ahmad Dhani merasa praktik politik Indonesia tidak banyak berbeda dengan industri K-Pop. Namun, kesamaan tersebut rupanya menjadi keluhan bagi Dhani.

Menurut Dhani melalui pernyataan di akun Facebook-nya baru-baru ini, kesamaan ada di banyaknya pencitraan di kedua bidang tersebut. Pengaruh buruknya, jika di dunia K-Pop penggemar musik jadi sulit menerima lagu-lagu lain, di dunia politik, masyarakat jadi lebih mudah menerima hoax dan mencernanya sebagai fakta.

Musik tidak artistik ini , di kemas sedemikian rupa dan di MAKE UP full sehingga se olah olah ini adalah musik bagus dan ber keSENIan tinggi. Ada semacam IMAGE ENGINEERING yang bisa membuat mereka yang AWAM MUSIK secara otomatis menjadi "Terkesima". Begitupun di kancah POLITIK di Indonesia...MANUFACTURE PERSON, IMAGE ENGINEERING...MAKE UP STORIES yang di kontrol oleh TAIPAN TAIPUN demi melanggengkan Bisnisnya agar tetap punya kontrol terhadap Penguasa Lokal ( Penguasa yang mereka BINA ),” tulis Dhani.

Yang menjadi keluhan Dhani adalah bahwa rendahnya kualitas keduanya dapat “menipu” masyarakat (dan penikmat musik) sehingga menjadi suka dengan hal-hal tersebut. Terlebih dengan bantuan media sosial, hal-hal tersebut menjadi viral sehingga informasi palsu nirkualitas menjadi mudah dipercaya banyak orang.

Sehingga semua yang ada di otak mereka ini , isi nya adalah informasi informasi awang awang... bualan bualan..dan SerBa SIMULASI tapi seperti NYATA. Parahnya ada budaya Mem BEO dalam jiwa masyarakat kita ... sehingga apa yang di viral kan adalah HOAX...dan menjadi Virus yang Lucu,” tulis Dhani.

Namun, Dhani merasa masalah tersebut memang bukan hal baru di Indonesia. Menurut Dhani, fenomena tersebut sudah terjadi sejak tahun 1600-an, yaitu zaman VOC masih berjaya. Di masa tersebut, Indonesai diajajah dengan militer dan politik adu domba. Sedangkan, alat-alat yang digunakan di masa kini adalah “MEDIA KAPITALIS dan POLITIK SIMULACRA”.

Mudah mudahan Bangsa ini selamat dari Virus Hoax yang bisa menyebabkan Bangsa ini DI JAJAH lagi oleh Bangsa Asing...Bangsa Asing yang memiliki KEDAULATAN nya sendiri,” harap Dhani.

(edi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini