Image

Kisah di Balik Film Nyai Ahmad Dahlan

krjogja.com, Jurnalis · Senin 20 Maret 2017, 13:13 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 03 20 206 1647171 kisah-di-balik-film-nyai-ahmad-dahlan-9gFkIeqZwK.jpg Tasyakuran mengawali syuting film Nyai Ahmad Dahlan the Movie

YOGYAKARTA - Siapakah Walidah? Mengapa ia difilmkan? Pertanyaan yang muncul spontan itu mengusik. Ia layak bertanya. Namanya nyaris tidak terdengar. Orang akan lebih tahu bila ia disebut Nyai Ahmad Dahlan. Lantas apakah karena ia istri KHA Dahlan yang pendiri Persyarikatan Muhammadiyah yang membuat ia mendapat gelar Pahlawan Nasional pada 10 November 1971?

Tidak! Sebagai istri KHA Dahlan, Nyai Walidah atau Nyai Ahmad Dahlan tidak sekadar ikut-ikutan. Perempuan yang dilahirkan di Kauman 1872 tersebut adalah juga seorang perempuan tokoh emansipasi perempuan dari Kauman, kampung santri di Yogyakarta.

Pada zamannya, Nyai Ahmad Dahlan ini menjadi panutan kaum perempuan. Apalagi ia dikenal sebagai tokoh yang menolak dilakukannya kawin paksa pada perempuan, apalagi anak-anak. Yang lebih hebat, Ny Walidah Ahmad Dahlan ini pernah menjadi perempuan yang memimpin Kongres Muhammadiyah tahun 1926.

Wikipedia menyebutkan, sosok luar biasa yang wafat pada 31 Mei 1946 ini merupakan perempuan pertama yang pernah memimpin Kongres – sekarang Muktamar – Muhammadiyah pada 1926, setelah wafatnya KHA Dahlan pada 1923. Walidah adalah pendiri ‘Sopo Tresno’ kelompok perempuan yang kemudian diubah dengan nama Aisyiyah. Muncul sikap heroik dalam kelembutan perempuan pejuang dari Kauman ini.

“Beliau adalah perempuan hebat. Sehingga tidak mudah menggambarkan sosok Nyai Walidah dalam film,” ungkap produser film ‘Nyai Ahmad Dahlan the Movie’ Diah Kalsitorini dari Ira’s Film dalam acara tasyakuran dan doa bersama mengawali syuting film tersebut.

Dalam film yang dibesut sutradara Diah Paramita – spesialis sutradara film-film festival – ini Nyai Walidah akan diperankan Tika Bivrani, pemeran Fatwamati dalam film Soekarno. Sementara KHA Dahlan diperankan David Chalik.

Masih banyak pemeran lain, di antaranya Rara, Ibu Erlin, Ibu Ida. Dan tidak kalah menarik, belasan kader bahkan aktivis Muhammadiyah Yogyakarta ikut andil dalam tayangan layar lebar yang akan melaksanakan syuting di Kulonprogo, Gunungkidul dan Kota Yogyakarta.

Mempelajari ketokohan Pahlawan Nasional yang tidak banyak dokumentasinya, diakui Diah Kalsitorini bukan hal mudah. Mengandalkan cerita cucu dan cicit almarhumah menjadi referensi utama. Tidak heran, persiapan menghadirkan film ini cukup lama. Menurut Diah Kalsitorini, sudah sejak setahun silam dilakukan. Yang membuat tidak kesulitan ungkap Diah Kalsitorini dan Diah Paramita, karena 75% pendukung adalah keluarga besar KHA Dahlan dan Muhammadiyah, semuanya terasa menjadi lancar. “Memang seluruh keluarga harus mencurahkan ingatan akan sosok Nyai Walidah ini,” ungkap Diah Paramita.

Bukan hal yang gampang dilakukan. Meski pemain yang sebagian besar adalah orang baru dan jarang sekali bersinggungan dengan acting film, belum menjadi kendala. Apalagi syuting pertama baru akan dilaksanakan Minggu 19 Maret 2017. Namun tekad mereka menurut Diah Paramita, sepertinya akan sangat mendukung sukses film ini. 

Namun pesan Ketua Umum PP Aisyiyah Siti Noordjanah Djohantini agaknya patut diresapi bukan hanya pemain, namun juga sutradara, produser dan pendukung lain. “Memfilmkan ini bukan hal mudah. Bahkan berat karena sudah ada Sang Pencerah. Karena itu kisah dalam film ini hendaknya tidak mereduksi Sang Pencerah. Tetapi bisa meningkatkan apa yang belum ada pada Sang Pencerah,” pesannya.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini