Ketika Tuhan Jatuh Cinta, Drama Cinta Penuh Pesan Religi

Alan Pamungkas, Jurnalis · Selasa 03 Juni 2014 11:05 WIB
https: img.okezone.com content 2014 06 03 35 993237 L2ujCjuBt6.jpg Poster film Ketika Tuhan Jatuh Cinta (Foto: ist)
JAKARTA - Ketika Tuhan Jatuh Cinta, film drama karya Studio Sembilan dan Leica Production ini menyelipkan nilai-nilai religi dalam setiap pesan yang disampaikan.

Kisah berawal dari Fikri (Reza Rahadian), seorang anak penjual ikan asin yang berasal dari Garut, Jawa Barat. Sang ayah, adalah tokoh agama setempat yang sangat kolot dalam hal beragama. Sebagai kepala rumah tangga, sang ayah mewajibkan anak-anaknya belajar ilmu agama.

Tidak hanya sampai disitu, dia sampai menyuruh Fikri menjadi seorang merbot masjid agar bisa mengabdi bagi agama, dan masyarakat. Tentu, sifat egois sang ayah membuat Fikri jengah.

Darah seni yang mengalir deras tidak bisa dibendung, apalagi untuk menjadi seorang merbot masjid.  Berniat pergi mencari ilmu di Bandung, Fikri malah diusir sang ayah lantaran tidak mematuhi perintahnya.

Bermodal lukisan pasir yang dibuat saat galau menentukan pilihan antara keluarga dan cita-cita, serta segepok uang dari tabungan, dan cincin emas ibunya, Fikri pergi ke Bandung, tempat para seniman mengekpresikan diri sekaligus meneruskan kuliah yang sempat tertunda.

Ke sana kemari mencari pembeli lukisan hingga harus menginap di Gedung Merdeka, Fikri tidak patah arang. Sampai pada akhirnya sampai di galeri milik Koh Acong (Didi Petet).

Teknik dasar melukis yang masih berantakan membuat Koh Acong pesimis dengan karya Fikri. Sadar diri, Fikri pun hanya menitipkan karyanya tanpa niat menjual. Dengan tekad kuat, dia kembali belajar melukis di tengah kota Bandung sambil melihat segala kondisi sosial yang ada.

Namun, di satu sisi, dia masih penasaran dengan nasib lukisan yang dititipkan. Dia pun mencoba kembali ke rumah galeri Koh Acong. Pucuk dicinta ulam pun tiba, karya Fikri yang original serta di luar mainstrem, justru menarik para kolektor lukisan. Lukisan dengan teknik standar yang dibuatnya saat di kampung halaman pun dibayar dengan harga pantas.

(Edi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini