Hari Ini 38 Tahun Lalu, Nike Ardila Lahir

Chaerunnisa, Jurnalis · Jum'at 27 Desember 2013 23:14 WIB
https: img.okezone.com content 2013 12 27 388 918468 62Fe2U1yZQ.jpg Nike Ardila

NIKE Ardilla telah menjadi legenda di industri hiburan tanah air. Meninggal 18 tahun yang lalu tidak membuat namanya hilang begitu saja dari ingatan ribuan fans yang masih setia mengidolakan. Untuk mengenang hari lahirnya yang jatuh pada hari ini, 27 Desember, mari kita bahas lagi perjalanan karir & hidup sang Superstar yang meninggal di usia 19.

 

Nike Ardilla lahir di Bandung 27 Desember 1975. Sejak umur 6 tahun sudah mengikuti berbagai festival musik mulai dari tingkat RT/RW, kecamatan, sekolah dan pernah mewakili provinsi Jawa Barat di Festival Pop Singer tingkat nasional. Tahun 1985 saat usianya masih 10 tahun dia sudah menjadi penyanyi profesional (bukan penyanyi anak-anak). Dia bergabung dengan manejemen Denny Sabri (alm).

 

Sekedar info saja, Denny Sabri adalah wartawan musik senior & juga promotor yang pernah mendatangkan grup musik Deep Purple ke Jakarta tahun 1975. Di bawah manejemen Denny Sabri, Nike Ardilla yang saat itu masih berstatus pelajar kelas 5 SD sudah punya jam terbang di panggung panggung pertunjukan musik rock dengan nama panggung Nike Astrina.

 

Dia sering didaulat menjadi opening act (pembuka konser) penyanyi senior yang sudah punya nama seperti Nicky Astria, Ikang Fawzy, dll. Karena pada saat itu Nike belum punya album atau lagu sendiri, biasanya dia membawakan lagu lagu lagu rock barat. Lagu yang sering ia bawakan adalah "The Final Countdown" (Europe) dan "Hongky Tonk Woman" (Rolling Stones).

 

Pernah pada suatu hari saat konser di Aceh, rocker senior Ikang Fawzy mengutarakan kekagumannya pada sosok Nike kecil yang saat itu membuka konsernya. Dia melihat Nike yang masih kelas 5 SD punya kematangan mental di atas panggung layaknya seperti penyanyi umur 20 tahunan, karena memang badannya tinggi, padahal saat itu Nike baru berusia 11 tahun.

 

Di usia 11, Nike Ardilla masuk dunia rekaman lewat sebuah single berjudul "Lupa Diri" yang dimuat dalam album kompilasi Bandung Rock Power (1987). Setahun kemudian pada Juli 1988 saat dia baru lulus SD, Nike merekam album perdana nya di JK Records yang sempat gagal rilis. Album yang berisi 11 lagu ini tidak dirilis karena pada saat itu Nike masih sangat belia (12 tahun), kurang cocok dengan materi lagunya yang bertema cinta-cintaan. Album ini kemudian dirilis tahun 2013 setelah 18 tahun ia meninggal. Di album pertama ini dia masih memakai nama Nike Astrina.

 

Oktober 1989 Nike bergabung dengan Proyek Q Records. Di sini lah awal petemuannya dengan Deddy Dores lewat album 'Seberkas Sinar'. Namanya pun diganti dari Nike Astrina menjadi Nike Ardilla. Album pertama dengan nama Nike Ardilla ini meledak di pasaran, laku sampai 500 ribu kopi.

 

Februari 1990 Nike merilis album kedua "Bintang Kehidupan" yang terjual sampai 2 juta copy. Lagu ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris "The Star of Life" dan membawanya juara di 'Asia Song Festival 1991' di Shanghai China.

 

Nike jadi kontestan termuda pada saat itu (umur 15 tahun). Sukses album "Seberkas Sinar" dan "Bintang Kehidupan" juga diikuti dengan sukses album album berikutnya. Album terakhirnya 'Sandiwara Cinta' yang dirilis sebulan sebelum meninggal bahkan terjual lebih dari 3 juta kopi.

 

Sembilan dari albumnya mendapat penghargaan sebagai best-selling-album (album terlaris). Empat kali dari BASF Awards (album Bintang Kehidupan, Nyalakan Api, Biarlah Aku Mengalah, Mama Aku Ingin Pulang). Empat kali dari HDX Awards (album Biarkan Cintamu Berlalu, Deru Debu, Sandiwara Cinta, Suara Hatiku) dan satu kali dari Anugrah Industri Muzik Malaysia (album Duri Terlindung).

 

Selain menghasilkan album-album laris, Nike Ardilla juga menggeluti dunia film dan sinetron. Film pertamanya berjudul "Kasmaran" dibintangi saat usianya masih 11 tahun. Film lain yang dibintangi adalah Gadis Foto Model, Si Kabayan & Anak Jin, Si Kabayan Saba Metropolitan, Lupus 4, Nakalnya Anak Muda, Cinta Anak Muda, Olga & Sepatu Roda, Nuansa Gadis Suci, Kembali Lagi, Saputangan Bandung Selatan, Opera Anak Juang Indonesia, dll. Dia juga membintangi sejumlah sinetron ; Bunga Kampus, Senandung Senja, Impian Pengantin, Sukreni Gadis Bali, Ceplas-Ceplos, None, Trauma Marissa, Warisan, Jalur Putih, dll.

 

Juga berprestasi di bidang modeling diantaranya juara dua pemilihan Model LA Clarks Jeans 1989 dan juara favorit Gadis Sampul 1990 dan eksis di sejumlah iklan berbagai produk. Didukung dengan wajah cantik dan penampilan yang modis menjadikan nya sebagai role-model di kalangan anak muda era 90an. Popularitasnya sebagai megabintang boleh dikatakan tak tertandingi pada saat itu. Yang perlu dicatat, Nike Ardilla hanya butuh usia 19 untuk menghasilkan 131 lagu (13 album) dan 21 film/sinetron. Pencapaian yang belum pernah bisa dilakukan artis manapun dengan usia 19.

 

Popularitas dan kegelimangan materi tak membuat ia lupa akan sesama. SLB Nike Ardilla yang terletak di Cipamokolan Bandung adalah bukti nyata jiwa sosialnya yang tinggi. Nike mendirikan SLB ini untuk anak anak tuna grahita pada tahun 1992 dan masih beroperasi hinga hari ini. Nike juga mendanai pembangunan Panti Bayi Sehat di Jl.Mulawarman Bandung dan pernah jadi donatur untuk club sepakbola Bandung Raya.

 

Namun sayang, kecelakaan 19 Maret 1995 menghentikan 'langkah' nya. Pagi itu sekitar pukul 05.30 Nike mengalami kecelakaan mobil di Jl. RE Martadinata Bandung. Berbagai spekulasi merebak seputar kematiannya. Menurut saksi hidup Atun yang bersamanya saat kejadian, pagi itu di depan mobil Nike ada mobil sedan berwarna merah melaju dengan pelan.

 

Karena buru-buru mengejar waktu untuk shooting di Bogor, Nike pun menyalip mobil tersebut. Tapi tiba-tiba dari arah berlawanan ada mobil taft melaju dengan kecepatan tingi. Untuk menghindari tabrakan beruntun dengan 2 mobil lain, Nike membanting stir ke kiri dan mobilnya menghantam sebuah tembok. Sang Superstar tewas seketika dengan kondisi yang tragis, sementara Atun temannya pingsan sesaat setelah kejadian. Nike 'pergi' di usia yang sangat muda, 19 tahun. Ribuan orang mengantar jasadnya ke pemakaman di Ciamis Jawa Barat.

 

Pasca kematian banyak bermunculan album album yang belum sempat dirilis. Album ini pun masih laris di pasaran dan mendapat penghargaan. Penghargaan lain di luar institusi musik adalah ; diterbitkannya prangko Nike Ardilla di Rusia pada tahun 1996. Masih di tahun yang sama, PT. Pos Indonesia menerbitkan kartu pos & SHP (Sampul Hari Peringatan) setahun wafatnya Nike Ardilla. Tahun 2000 PT. Telkom merilis kartu telepon edisi Nike Ardilla untuk mengenang 5 tahun wafatnya. Dan di tahun 2012, Nike Ardila diabadikan menjadi nama sebuah jalan kavling perumahan di Jakarta.

(tre)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini