Arifin Putra-Ardina Rasti Sambangi Makassar

Arpan Rachman, Jurnalis · Minggu 22 Mei 2011 17:03 WIB
https: img.okezone.com content 2011 05 22 206 459706 jSAFnS4y4j.jpg Arifin Putra, Ardina Rasti, Alifyandra, dan Ichwan Persada. (Foto: Andi Aisyah/Okezone)

MAKASSAR - Film “Batas” dipromosikan ke Kota Anging Mamiri, Minggu (22/5/2011). Makassar menjadi kota keenam yang dapat giliran dihampiri pendukung film itu setelah keliling Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Malang, dan Pontianak.

Tiga bintangnya, Arifin Putra (Arif), Ardina Rasti (Ubuh), dan Alifyandra (Borneo), bersama produser asosiasi Keana Production, Ichwan Persada, menggelar konferensi dengan para jurnalis di Hotel Clarion, Makassar.  

"Film ini bergenre drama," ungkap Ichwan kepada okezone sambil menguraikan problematika yang dihadapi saat pengambilan gambar, terutama kerasnya rasa kebanggan menjadi warga Merah-Putih yang dimiliki para penduduk di Entikong, Kalimantan Barat.

Film ini berkisah tentang kehidupan sehari-hari yang terjadi di daerah perbatasan negara antara Indonesia-Malaysia. Soal pendidikan dan nasionalisme di kawasan tapal difokuskan sebagai propagandanya.

Konflik yang dipertontonkan beragam masalah. Seperti program pendidikan, prinsip nasionalisme dalam diri masyarakat perbatasan di antara pilihan yang menggiurkan untuk jadi TKI di Negeri Jiran.

Disutradarai Rudi Soedjarwo menjadi pengalaman asyik bagi pemeran utama pria, Arifin Putra, yang membintangi film ketiganya ini dengan semangat menggebu.

"Selama satu bulan, dari proses membaca naskah hingga observasi lapangan, yakni tinggal satu minggu di barak tentara, saya mendalami karakter Arif," ujar Arifin yang berperan sebagai perwira intelijen dalam tugas penyamaran.

Dia tidak takut dicap sebagai “The Next Nico” saat diduetkan dengan Ardina Rasti yang berpotensi jadi “The Next Dian” lantaran sutradara Rudi Soedjarwo sudah telanjur identik dengan kesuksesan “Ada Apa dengan Cinta”, yang melambungkan nama Nico Saputra-Dian Sastro ke atas puncak kepopuleran dalam blantika perfilman Indonesia pada dekade 90-an silam.

Sedangkan lawan mainnya, Ardina Rasti, mengaku selalu merinding bila teringat cerita duka-lara para TKI perempuan asal Indonesia yang diiming-imingi kehidupan bersurga di Malaysia, namun menerima kenyataan pahit.

"Bayangkan saja tinggal di barak tentara dekat Desa Punti Kayan, (berjarak sekira) dua jam (perjalanan) dari Entikong, tanpa listrik dan sinyal telepon," urai Rasti.

Berdurasi sepanjang 115 menit, film “Batas” menawarkan nuansa berbeda dari serbuan film-film horor berbau seks dengan aktris impor yang menyerbu penonton bioskop akhir-akhir ini.

Semangat mengembalikan film sebagai bahasa gambar boleh disaksikan lewat eksploitasi visual tentang sebagian hutan belantara di sisi barat pulau Kalimantan. Ini film yang menggugat rasa kebangsaan sebagai hak hidup yang sama bagi seluruh rakyat Indonesia.

(tty)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini