"Kebersamaan Lebih Penting ketimbang Harta"

Tomi Tresnady, Jurnalis · Minggu 25 April 2010 14:55 WIB
https: img.okezone.com content 2010 04 25 34 326130 1hGRGR2JCv.jpg Lidya Kandou (Foto: Wordpress)

JAKARTA-Kesedihan tengah menyelimuti keluarga besar Kandou. Sebab ibunda yang juga seorang nenek 30 cucu,  Maria Jacona Petronenella Kandou telah berpulang kepada Sang Khalik. Dengan berpulangnya sang bunda, Lidya Kandou merasa masih banyak hal yang belum dilakukan untuknya.

"Saya selama ini baru merasakan bahwa anak yang harus memberikan banyak hal kepada mami, saya pikir hanya seperti itu saja. Tetapi ketika mami pergi saya baru tahu, misalkan ada rezeki kepada mami saya kasih itu tidak cukup, rumah dan harta yang saya kasih ke mami itu sepertinya tidak membuat mami bahagia. Yang membuat mami bahagia, sebetulnya, waktu (kebersamaan) yang harus diberikan kepada anaknya. Ternyata, waktu yang kita berikan kepada orang tua kita jauh lebih mahal dari materi," tutur Lidya saat ditemui di TPU Tanah Kusir, Minggu (25/4/2010).

Lidya mengaku, lantaran pikiran lah yang membuat ibundanya menderita penyakit komplikasi paru-paru dan liver.

"Mami itu tipe ibu yang keras, tapi komit dan konsisten orangnya, dia enggak labil, saya kan labil. Disiplinnya kuat dan tegas banget, tapi enggak benar-benar membiarkan anaknya, seperti waktu mami memiliki masalah, dia enggak mau anak-anaknya terlibat, dia berusaha untuk memecahkan masalah itu sediri. Dan saya sempat bilang, mami sakit itu karena pikiran, dan bukan karena pikiran yang seharusnya mami begini, tetapi pikiran orang yang ditampung, tapi dia bilang enggak bisa," ungkap Lidya.

"Kalau cucunya sekali telepon, diingetin hingga satu tahun, semua orang dikasih tahu. Padahal enggak sering telepon, tapi umbarannya. Makanya saya pikir, yang dibutuhkan mami waktu itu adalah pehatian. Jadi begitu mami pergi, aku merasa kurang waktu untuk memerhatikan mami," lanjut wanita bernama lengkap Lydia Ruth Elizabeth Kandou ini.

Seperti diberitakan sebelumnya, Lydia bersama putri kedua, Naysilla Mirdad masih sempat menemani ibunda hingga ajal menjemputnya. Ternyata, kedekatan yang terjalin antara nenek dan cucu tak hanya saat itu saja, namun Maria memang dekat dengan Naysilla.

"Pengalaman banyak tapi yang paling aku inget, tangan mami, tangan mami itu alus banget sehingga aku senang banget pegang tangan mami. Dan kalau aku tidur dengan mami, dia selalu megelus-ngelus rambut jadi saya senang banget. Mami hebat banget," ucap Naysilla.

Kebaikan almarhum telah terpatri dalam hati seluruh keluarga besar Kandou, termasuk menantunya, Jamal Mirdad.

"Sebagai suami saya bisa mengamati anak-anak sangat dalam mencintai mami, karena kedekatan mami dengan anak-anak, dan kedekatan anak-anak kepada mami tidak bisa dipisahkan. Seperti satu tradisi, jalanan kasih sayang secara fisik pun dalam suasana apapun mami dengan anak-anak dan anak-anak kepada mami sangat kuat sekali. Sehingga yang nampak, kepergian mami yang sangat mendadak itu membuat jiwa anak-anak dan keluarga kaget, terutama Lydia. Tapi tidak hanya di sini saja, mudah-mudahan ini bisa menjadi satu contoh sebagai anak kepada orang tua, harapan kami anak-anak pun bisa mencermini hal-hal yang terbaik dari apa yang terjadi kali ini," imbuh Jamal Mirdad,

Meski segala penyesalan dan kebaikan telah tertoreh di hati, namun Jamal masih memiliki harapan serta doa yang tulus agar mertuanya damai di sisi Tuhan.

"Setiap manusia pasti membawa dirinya ke hadapan Tuhan dan Allah SWT, jadi mudah-mudahan apa yang dilakukan mami diterima oleh Tuhan dan kelak anak-anak mendapat bimbingan Allah," harap penyanyi dangdut yang menjadi anggota dewan itu. (nsa)

(ang)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini