Share

Harga Pelacur di Tangan Ratna Sarumpaet

Nurfajri Budi Nugroho, Jurnalis · Kamis 04 Desember 2008 16:00 WIB
https: img.okezone.com content 2008 12 04 206 170696 uvoAVc8Hnv.jpg Ratna Sarumpaet (Foto: 21Cineplex.com)

JAKARTA - Ratna Sarumpaet membawa pentas panggungnya ke layar lebar. Apabila selama ini kisah Jamila dan Sang Presiden hanya bisa disaksikan melalui pagelaran teater, tahun depan publik bisa menyaksikannya di bioskop.

Namun syuting yang sudah dimulai sejak Agustus silam tidak terdengar lagi kabarnya. Ratna berhenti? "Tidak, saya lagi menoleransi krisis," kata Ratna dalam keterangan tertulisnya kepada okezone, Kamis (4/12/2008).

Krisis yang menyandungnya membuat dia terpaksa menghentikan masa pengambilan gambar yang tinggal 30 persen lagi selesai. Usaha mencari investor baru untuk membiayai film ini pun dilakoninya.

Hasilnya? "Jelaslah ngos-ngosan," timpal dia.

Pendekatan kepada para donatur untuk menyatakan kepedulian terhadap perempuan sudah dia lakukan. Bahkan sampai mempresentasikan kelayakan film ini secara komersil kepada pihak sponsor.

Ratna juga mencoba menepis anggapan publik bahwa film yang dibuatnya berat untuk dicerna. "Dengan membawa cerita ini ke dalam versi layar lebar agar publik dapat menontonnya dengan lebih rileks, namun tetap mendapatkan makna di dalamnya," jelas dia.

Ratna juga menyadari bahwa dunia entertainment berbeda dengan dunia yang selama ini digelutinya. Ia terlihat lebih santai dan terbuka menyoal dunianya yang baru.

"Mungkin orang melihat saya di TV galak ya," kelakarnya.

Dia menambahkan, film Jamila dan Sang Presiden akan memiliki alur yang memikat, menghibur, sekaligus 'seksi'.

Cerita sentral film ini adalah tentang seorang pelacur bernama Jamila. Ratna mengharapkankan publik tidak melihatnya secara dangkal. Karena perempuan sebagai komoditas sebenarnya tidak cuma menyoal pelacuran.  "Bukan sekadar proses transaksi yang berujung uang," imbuhnya.

Menurutnya, harga yang menjadi peranan penting adalah seberapa besar masyarakat bisa menghargai diri sendiri, norma, dan sesamanya.  "Bayangkan, jangankan harga pelacurnya. Untuk bikin film tentang pelacur saja mahal kok," seloroh Ratna.

Film Jamila dan sang Presiden bisa jadi adalah film yang istimewa. Pasalnya, film yang juga mengangkat realita kehidupan tentang perdagangan pekerja seks anak-anak di bawah umur ini melibatkan banyak aktris dan aktor papan atas Indonesia.

Sebut saja Christine Hakim, Surya Saputra, Fauzi Baadila, Ade Irawan, Dwi Sasono, Marcelino Lefrand, Adji Pangestu, Atiqah Hasiolan hingga aktris muda berbakat, Eva Celia.

(jri)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini