<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Slank Pernah Gunakan Direct License Sejak Awal 2000-an, Berhenti karena Ini</title><description>Slank ternyata sudah menerapkan sistem direct license jauh sebelum istilah itu ramai dibicarakan saat ini.&#13;
</description><link>https://celebrity.okezone.com/read/2025/04/25/205/3133647/slank-pernah-gunakan-direct-license-sejak-awal-2000-an-berhenti-karena-ini</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://celebrity.okezone.com/read/2025/04/25/205/3133647/slank-pernah-gunakan-direct-license-sejak-awal-2000-an-berhenti-karena-ini"/><item><title>Slank Pernah Gunakan Direct License Sejak Awal 2000-an, Berhenti karena Ini</title><link>https://celebrity.okezone.com/read/2025/04/25/205/3133647/slank-pernah-gunakan-direct-license-sejak-awal-2000-an-berhenti-karena-ini</link><guid isPermaLink="false">https://celebrity.okezone.com/read/2025/04/25/205/3133647/slank-pernah-gunakan-direct-license-sejak-awal-2000-an-berhenti-karena-ini</guid><pubDate>Jum'at 25 April 2025 09:07 WIB</pubDate><dc:creator>Ravie Wardani</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2025/04/25/205/3133647/slank-suTN_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Slank Pernah Gunakan Direct License Sejak Awal 2000-an, Berhenti karena Ini (Foto: Slank)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2025/04/25/205/3133647/slank-suTN_large.jpg</image><title>Slank Pernah Gunakan Direct License Sejak Awal 2000-an, Berhenti karena Ini (Foto: Slank)</title></images><description>JAKARTA - Slank ternyata sudah menerapkan sistem direct license jauh sebelum istilah itu ramai dibicarakan saat ini. Di awal tahun 2000-an, mereka sempat mengatur perizinan penggunaan lagu secara langsung, tanpa melalui lembaga pengelola royalti seperti yang sekarang umum dilakukan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dulu, sebelum ada WAMI, Slank tuh langsung urus sendiri. Jadi misalnya ada stasiun TV telepon, bilang, &amp;lsquo;Mas Bimbim, ini ada artis mau bawain lagu Slank, boleh nggak?&amp;rsquo; Kita cek dulu artisnya siapa, kalau oke, cantik, ya udah boleh,&amp;rdquo; kata Bimbim saat ditemui di markas Potlot, Duren Tiga, Jakarta Selatan.&#13;
&#13;
Praktik itu berlangsung sebelum munculnya Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) yang kini menjadi rujukan utama dalam sistem royalti musik. Slank saat itu memilih jalur langsung, karena lebih sederhana dan personal.&#13;
&#13;
&#13;
Slank Pernah Gunakan Direct License Sejak Awal 2000-an, Berhenti karena Ini&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Namun seiring berjalannya waktu dan munculnya LMK, Slank merasa pengurusan royalti lebih praktis jika dikelola oleh lembaga resmi.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dulu kita nggak mikirin dibayar berapa, terserah aja. Yang penting izin,&amp;rdquo; sambung Kaka.&#13;
&#13;
Di tengah perdebatan antara AKSI (Asosiasi Komposer Seluruh Indonesia) dan VISI (Vibrasi Suara Indonesia) soal sistem distribusi royalti, Slank memilih tidak berpihak. Bagi mereka, royalti bukan sumber penghasilan utama.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kita sih hidupnya dari manggung. Royalti mah belum bisa dijadiin andalan,&amp;rdquo; ujar Bimbim.&#13;
&#13;
Kaka juga sempat diajak untuk bergabung ke salah satu kelompok dalam polemik ini. Namun, vokalis Slank itu memilih menolak sejak awal.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Nggak tahu siapa, pokoknya ada yang telepon, nanya pendapat gue. Ya ngapain lo dengerin pendapat gue, gue aja nggak mau ikut-ikutan,&amp;rdquo; katanya.&#13;
&#13;
Kaka mengaku tidak masalah selama dua pihak yang berseteru punya tujuan baik untuk memperbaiki sistem royalti.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Sikap netral ini ditegaskan lagi oleh Bimbim. Menurutnya, Slank akan selalu mengikuti aturan hukum yang berlaku, apapun bentuknya.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Yang penting kita taat hukum. Kalau aturan yang baru disahkan, ya kita ikut. Kalau dua-duanya disahkan juga, kita ikut,&amp;rdquo; ucapnya. &amp;ldquo;Seperti biasa, Slank tetap di tengah. Kita pemersatu bangsa,&amp;rdquo; tutup Bimbim.&#13;
&#13;
&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Slank ternyata sudah menerapkan sistem direct license jauh sebelum istilah itu ramai dibicarakan saat ini. Di awal tahun 2000-an, mereka sempat mengatur perizinan penggunaan lagu secara langsung, tanpa melalui lembaga pengelola royalti seperti yang sekarang umum dilakukan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dulu, sebelum ada WAMI, Slank tuh langsung urus sendiri. Jadi misalnya ada stasiun TV telepon, bilang, &amp;lsquo;Mas Bimbim, ini ada artis mau bawain lagu Slank, boleh nggak?&amp;rsquo; Kita cek dulu artisnya siapa, kalau oke, cantik, ya udah boleh,&amp;rdquo; kata Bimbim saat ditemui di markas Potlot, Duren Tiga, Jakarta Selatan.&#13;
&#13;
Praktik itu berlangsung sebelum munculnya Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) yang kini menjadi rujukan utama dalam sistem royalti musik. Slank saat itu memilih jalur langsung, karena lebih sederhana dan personal.&#13;
&#13;
&#13;
Slank Pernah Gunakan Direct License Sejak Awal 2000-an, Berhenti karena Ini&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Namun seiring berjalannya waktu dan munculnya LMK, Slank merasa pengurusan royalti lebih praktis jika dikelola oleh lembaga resmi.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dulu kita nggak mikirin dibayar berapa, terserah aja. Yang penting izin,&amp;rdquo; sambung Kaka.&#13;
&#13;
Di tengah perdebatan antara AKSI (Asosiasi Komposer Seluruh Indonesia) dan VISI (Vibrasi Suara Indonesia) soal sistem distribusi royalti, Slank memilih tidak berpihak. Bagi mereka, royalti bukan sumber penghasilan utama.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kita sih hidupnya dari manggung. Royalti mah belum bisa dijadiin andalan,&amp;rdquo; ujar Bimbim.&#13;
&#13;
Kaka juga sempat diajak untuk bergabung ke salah satu kelompok dalam polemik ini. Namun, vokalis Slank itu memilih menolak sejak awal.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Nggak tahu siapa, pokoknya ada yang telepon, nanya pendapat gue. Ya ngapain lo dengerin pendapat gue, gue aja nggak mau ikut-ikutan,&amp;rdquo; katanya.&#13;
&#13;
Kaka mengaku tidak masalah selama dua pihak yang berseteru punya tujuan baik untuk memperbaiki sistem royalti.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Sikap netral ini ditegaskan lagi oleh Bimbim. Menurutnya, Slank akan selalu mengikuti aturan hukum yang berlaku, apapun bentuknya.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Yang penting kita taat hukum. Kalau aturan yang baru disahkan, ya kita ikut. Kalau dua-duanya disahkan juga, kita ikut,&amp;rdquo; ucapnya. &amp;ldquo;Seperti biasa, Slank tetap di tengah. Kita pemersatu bangsa,&amp;rdquo; tutup Bimbim.&#13;
&#13;
&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
