<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Gina S. Noer Soroti Film Horor Indonesia yang Mengarah pada Eksploitasi Agama</title><description>Gina S. Noer ikut menyoroti maraknya film Indonesia dengan tema religi.</description><link>https://celebrity.okezone.com/read/2024/03/27/206/2989118/gina-s-noer-soroti-film-horor-indonesia-yang-mengarah-pada-eksploitasi-agama</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://celebrity.okezone.com/read/2024/03/27/206/2989118/gina-s-noer-soroti-film-horor-indonesia-yang-mengarah-pada-eksploitasi-agama"/><item><title>Gina S. Noer Soroti Film Horor Indonesia yang Mengarah pada Eksploitasi Agama</title><link>https://celebrity.okezone.com/read/2024/03/27/206/2989118/gina-s-noer-soroti-film-horor-indonesia-yang-mengarah-pada-eksploitasi-agama</link><guid isPermaLink="false">https://celebrity.okezone.com/read/2024/03/27/206/2989118/gina-s-noer-soroti-film-horor-indonesia-yang-mengarah-pada-eksploitasi-agama</guid><pubDate>Kamis 28 Maret 2024 03:30 WIB</pubDate><dc:creator>Nurul Amanah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/03/27/206/2989118/gina-s-noer-soroti-film-horor-indonesia-yang-mengarah-pada-eksploitasi-agama-kfC8xRdfLy.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Gina S. Noer soroti film horor Indonesia dengan tema agama (Foto: Instagram/ginasnoer)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/03/27/206/2989118/gina-s-noer-soroti-film-horor-indonesia-yang-mengarah-pada-eksploitasi-agama-kfC8xRdfLy.jpg</image><title>Gina S. Noer soroti film horor Indonesia dengan tema agama (Foto: Instagram/ginasnoer)</title></images><description>JAKARTA - Film&amp;nbsp;Indonesia bergenre horor belakangan muncul dan mengangkat tema religi. Maraknya film horor dengan tema religi membuat masyarakat pun&amp;nbsp;ramai menyoroti hal tersebut.
Bukan tanpa alasan, pasalnya, mayoritas film horor religi yang mempertontonkan adegan saat 'diganggu' &amp;nbsp;oleh mahluk halus ketika beribadah. Belum lagi poster film Kiblat yang memperlihatkan pose menyeramkan seseorang yang menggunakan mukena dan melakukan rukuk, yang mana merupakan salah satu gerakan salat.


BACA JUGA:
LSF Ternyata Belum Beri Surat Tanda Lulus Sensor untuk Film Kiblat



Sutradara Gina S. Noer turut memberikan pandangannya atas fenomena ini dalam industri perfilman Indonesia. Gina mencoba memberikan pandangan dengan membedah film korea 'Exhuma' yang tengah viral.
Menurutnya, film Exhuma memperlihatkan bahwa karakter dengan kepercayaan yang kuat baik terhadap dirinya dan kepercayaan yang dianutnya menjadi kekuatan utama untuk melawan apapun, termasuk gangguan dari mahluk halus.

&quot;Bismillah, mau curhat dikit soal (kebanyakan) film horor indonesia. Hal yang paling gue suka dari film Exhuma adalah karakternya percaya sekali dengan belief (baik terhadap diri sendiri ataupun kepercayaan yang dianutnya) dan kemudian belief itu menjadi modal kuat untuk melawan setan yang kuat,&quot; ujar Gina S. Noer dikutip dari unggahan Instagram Story akun pribadinya @ginasnoer.


Gina S. Noer soroti film horor Indonesia dengan tema agama (Foto: Instagram/ginasnoer)

Bagi Gina, film-film horor Indonesia seharusnya&amp;nbsp;bisa berkaca dari&amp;nbsp;film Exhuma yang memperlihatkan kepercayaan dalam diri seseorang yang begitu kuatnya bukan malah mengeksploitasi agama Islam dengan memperlihatkan adegan-adegan diganggu mahluk halus saat beribadah.

&quot;Bahkan belief karakter ini kemudian jadi titik tolak masuk bicara soal nasionalisme korea. Nah, menurut gue masalahnya dengan kebanyakan horor indonesia yang temanya agama saat ini, adalah sudah masuk ke ranah eksploitasi agama. Terutama agama islam (mungkin karena mayoritas ya,&quot; sambungnya.


BACA JUGA:
Alasan MUI Larang Penayangan Film Kiblat di Bioskop



Selain itu, menghadirkan jumpscare saat karakter sedang beribadah menjadi cara yang dangkal untuk menciptakan suasana seram demi menakut-nakuti penonton.

&quot;Kebanyakan film horor menggunakan shalat, doa, zikir, dll cuma jadi plot devices murahan untuk jumpscare karakternya diganggu setan. Sehingga kelemahan iman bukan lagi menjadi eksplorasi kritik terhadap keislaman yang dangkal tapi cara dangkal biar cepat seram,&quot; ujarnya.Sutradara film Dua Garis Biru ini pun mengingatkan bahwa seorang sineas harus memperhatikan dampak karya yang dibuatnya kepada masyarakat. Jangan sampai sebuah film malah mengeksploitasi agama hingga membuat masyarakat takut untuk beribadah.

&quot;Gue gak beriman-iman banget ya. cuma gue sebagai penonton, filmmaker, dan yang percaya islam agama baik lemah lembut, lama-lama jadi gelisah banget soal ini. Apalagi dengan konteks tingkat literasi masyarakat kita ya. In my opinion, tanggung jawab filmmaker itu bukan cuma balikin investasi tapi juga soal impact ke kebudayaan masyarakatnya,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Film&amp;nbsp;Indonesia bergenre horor belakangan muncul dan mengangkat tema religi. Maraknya film horor dengan tema religi membuat masyarakat pun&amp;nbsp;ramai menyoroti hal tersebut.
Bukan tanpa alasan, pasalnya, mayoritas film horor religi yang mempertontonkan adegan saat 'diganggu' &amp;nbsp;oleh mahluk halus ketika beribadah. Belum lagi poster film Kiblat yang memperlihatkan pose menyeramkan seseorang yang menggunakan mukena dan melakukan rukuk, yang mana merupakan salah satu gerakan salat.


BACA JUGA:
LSF Ternyata Belum Beri Surat Tanda Lulus Sensor untuk Film Kiblat



Sutradara Gina S. Noer turut memberikan pandangannya atas fenomena ini dalam industri perfilman Indonesia. Gina mencoba memberikan pandangan dengan membedah film korea 'Exhuma' yang tengah viral.
Menurutnya, film Exhuma memperlihatkan bahwa karakter dengan kepercayaan yang kuat baik terhadap dirinya dan kepercayaan yang dianutnya menjadi kekuatan utama untuk melawan apapun, termasuk gangguan dari mahluk halus.

&quot;Bismillah, mau curhat dikit soal (kebanyakan) film horor indonesia. Hal yang paling gue suka dari film Exhuma adalah karakternya percaya sekali dengan belief (baik terhadap diri sendiri ataupun kepercayaan yang dianutnya) dan kemudian belief itu menjadi modal kuat untuk melawan setan yang kuat,&quot; ujar Gina S. Noer dikutip dari unggahan Instagram Story akun pribadinya @ginasnoer.


Gina S. Noer soroti film horor Indonesia dengan tema agama (Foto: Instagram/ginasnoer)

Bagi Gina, film-film horor Indonesia seharusnya&amp;nbsp;bisa berkaca dari&amp;nbsp;film Exhuma yang memperlihatkan kepercayaan dalam diri seseorang yang begitu kuatnya bukan malah mengeksploitasi agama Islam dengan memperlihatkan adegan-adegan diganggu mahluk halus saat beribadah.

&quot;Bahkan belief karakter ini kemudian jadi titik tolak masuk bicara soal nasionalisme korea. Nah, menurut gue masalahnya dengan kebanyakan horor indonesia yang temanya agama saat ini, adalah sudah masuk ke ranah eksploitasi agama. Terutama agama islam (mungkin karena mayoritas ya,&quot; sambungnya.


BACA JUGA:
Alasan MUI Larang Penayangan Film Kiblat di Bioskop



Selain itu, menghadirkan jumpscare saat karakter sedang beribadah menjadi cara yang dangkal untuk menciptakan suasana seram demi menakut-nakuti penonton.

&quot;Kebanyakan film horor menggunakan shalat, doa, zikir, dll cuma jadi plot devices murahan untuk jumpscare karakternya diganggu setan. Sehingga kelemahan iman bukan lagi menjadi eksplorasi kritik terhadap keislaman yang dangkal tapi cara dangkal biar cepat seram,&quot; ujarnya.Sutradara film Dua Garis Biru ini pun mengingatkan bahwa seorang sineas harus memperhatikan dampak karya yang dibuatnya kepada masyarakat. Jangan sampai sebuah film malah mengeksploitasi agama hingga membuat masyarakat takut untuk beribadah.

&quot;Gue gak beriman-iman banget ya. cuma gue sebagai penonton, filmmaker, dan yang percaya islam agama baik lemah lembut, lama-lama jadi gelisah banget soal ini. Apalagi dengan konteks tingkat literasi masyarakat kita ya. In my opinion, tanggung jawab filmmaker itu bukan cuma balikin investasi tapi juga soal impact ke kebudayaan masyarakatnya,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
