<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Andrea Hirata Lestarikan Budaya Orkes Melayu Lewat Brianna dan Bottomwise</title><description>Andrea Hirata akhirnya kembali merilis novel baru bertajuk Brianna dan Bottomwise usai vakum selama tiga tahun lamanya</description><link>https://celebrity.okezone.com/read/2022/08/21/33/2651714/andrea-hirata-lestarikan-budaya-orkes-melayu-lewat-brianna-dan-bottomwise</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://celebrity.okezone.com/read/2022/08/21/33/2651714/andrea-hirata-lestarikan-budaya-orkes-melayu-lewat-brianna-dan-bottomwise"/><item><title>Andrea Hirata Lestarikan Budaya Orkes Melayu Lewat Brianna dan Bottomwise</title><link>https://celebrity.okezone.com/read/2022/08/21/33/2651714/andrea-hirata-lestarikan-budaya-orkes-melayu-lewat-brianna-dan-bottomwise</link><guid isPermaLink="false">https://celebrity.okezone.com/read/2022/08/21/33/2651714/andrea-hirata-lestarikan-budaya-orkes-melayu-lewat-brianna-dan-bottomwise</guid><pubDate>Senin 22 Agustus 2022 00:08 WIB</pubDate><dc:creator>Intan Afika Nuur Aziizah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/08/21/33/2651714/andrea-hirata-lestarikan-budaya-orkes-melayu-lewat-brianna-dan-bottomwise-fljBrA3h6b.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Andrea Hirata (Foto: MPI)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/08/21/33/2651714/andrea-hirata-lestarikan-budaya-orkes-melayu-lewat-brianna-dan-bottomwise-fljBrA3h6b.jpeg</image><title>Andrea Hirata (Foto: MPI)</title></images><description>JAKARTA - Andrea Hirata akhirnya kembali merilis novel baru bertajuk Brianna dan Bottomwise usai vakum selama tiga tahun lamanya. Buku yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka itu berkisah tentang petualangan gitar Vintage Sunburst 1960 dari Fresno, California hingga Kampung Ketumbi di Pulau Senyap, Sumatra.
Penulis tetralogi Laskar Pelangi yang kerap disapa sebagai Pak Cik ini bercerita, ada dua alasan ia menulis novel Brianna dan Bottomwise. Pertama, karena ditantang oleh dosennya yang menyebut novel tentang musik lebih sulit dibuat dibandingkan tema lainnya.

BACA JUGA:Bangkit dari Pandemi, Jakarta Melayu Festival 2022 Digelar
BACA JUGA:Buka Rising Star Dangdut, Top 3 Berdendang Melayu Bareng Iyeth Bustami




Kala itu, Andre merasa tak percaya, karena menurutnya tema psikologi ataupun antropologi jauh lebih sulit ditulis karena tak banyak diketahui publik. Berangkat dari rasa penasaran itulah, Andrea mencoba menulis Brianna dan Bottomwise.
Dan, ternyata benar saja. Kisah dengan tema musik ini benar-benar sulit ditulis, bahkan sukses membuat Andrea nyaris menyerah. Terlebih, novel pertama Brianna dan Bottomwise ditulis dalam bahasa Inggris.
&quot;Ternyata memang sulit sekali menulis dengan teman musik itu, membangun karakter fiksi dari karya yang semua orang tau dan familiar itu ternyata tidak gampang. Ketika ditulis tiba-tiba malah seperti artikel, majalah musik. Sekarang saya ngerti kenapa dosen saya bilang nulis novel bertema musik itu susah,&quot; ucap Andrea dalam konferensi pers Peluncuran Buku Brianna dan Bottomwise di kawasan Jakarta Timur.
Selain membuktikan perkataan sang dosen, Andrea juga ingin  memperkenalkan kembali orkes Melayu yang hampir punah kepada generasi  muda. Oleh karenanya, beragam musik pun turut dibunyikan dalam novel  ini, mulai dari irama Melayu Semenanjung, rebana, hadrah, qasidah,  hingga hentakan-hentakan staccato funk rock.

&quot;Dalam karya ini ada musical journey dari tokoh Sadman, ada misinya,  saya ingin generasi muda Indonesia, terutama orang-orang Melayu main  orkes Melayu karena sekarang mulai punah. Orkes Melayu itu tidak  semuanya identik dengan dangdut kawan,&quot; ujar Andrea.

Menariknya, kisah dalam novel ini dipengaruhi oleh pengalaman pribadi  Andrea Hirata selaku penghobi bunyi-bunyian dan musisi yang disebutnya  dengan istilahnya sendiri, pra-amatir. Apapun yang dialami Sadman a.k.a  Orkes Man, karakter mencolok dalam novel ini pun pernah dialami Andrea  sendiri dan grup musiknya, termasuk dilempari penonton dengan sandal  cunghai.

Melalui kisah Brianna dan Bottomwise, Andrea Hirata berharap  ceritanya dapat mengedukasi pembaca dan menginspirasi para penulis muda  lainnya. Kini, novel Brianna dan Bottomwise sudah resmi diterbitkan  sejak bulan Juli 2022.
</description><content:encoded>JAKARTA - Andrea Hirata akhirnya kembali merilis novel baru bertajuk Brianna dan Bottomwise usai vakum selama tiga tahun lamanya. Buku yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka itu berkisah tentang petualangan gitar Vintage Sunburst 1960 dari Fresno, California hingga Kampung Ketumbi di Pulau Senyap, Sumatra.
Penulis tetralogi Laskar Pelangi yang kerap disapa sebagai Pak Cik ini bercerita, ada dua alasan ia menulis novel Brianna dan Bottomwise. Pertama, karena ditantang oleh dosennya yang menyebut novel tentang musik lebih sulit dibuat dibandingkan tema lainnya.

BACA JUGA:Bangkit dari Pandemi, Jakarta Melayu Festival 2022 Digelar
BACA JUGA:Buka Rising Star Dangdut, Top 3 Berdendang Melayu Bareng Iyeth Bustami




Kala itu, Andre merasa tak percaya, karena menurutnya tema psikologi ataupun antropologi jauh lebih sulit ditulis karena tak banyak diketahui publik. Berangkat dari rasa penasaran itulah, Andrea mencoba menulis Brianna dan Bottomwise.
Dan, ternyata benar saja. Kisah dengan tema musik ini benar-benar sulit ditulis, bahkan sukses membuat Andrea nyaris menyerah. Terlebih, novel pertama Brianna dan Bottomwise ditulis dalam bahasa Inggris.
&quot;Ternyata memang sulit sekali menulis dengan teman musik itu, membangun karakter fiksi dari karya yang semua orang tau dan familiar itu ternyata tidak gampang. Ketika ditulis tiba-tiba malah seperti artikel, majalah musik. Sekarang saya ngerti kenapa dosen saya bilang nulis novel bertema musik itu susah,&quot; ucap Andrea dalam konferensi pers Peluncuran Buku Brianna dan Bottomwise di kawasan Jakarta Timur.
Selain membuktikan perkataan sang dosen, Andrea juga ingin  memperkenalkan kembali orkes Melayu yang hampir punah kepada generasi  muda. Oleh karenanya, beragam musik pun turut dibunyikan dalam novel  ini, mulai dari irama Melayu Semenanjung, rebana, hadrah, qasidah,  hingga hentakan-hentakan staccato funk rock.

&quot;Dalam karya ini ada musical journey dari tokoh Sadman, ada misinya,  saya ingin generasi muda Indonesia, terutama orang-orang Melayu main  orkes Melayu karena sekarang mulai punah. Orkes Melayu itu tidak  semuanya identik dengan dangdut kawan,&quot; ujar Andrea.

Menariknya, kisah dalam novel ini dipengaruhi oleh pengalaman pribadi  Andrea Hirata selaku penghobi bunyi-bunyian dan musisi yang disebutnya  dengan istilahnya sendiri, pra-amatir. Apapun yang dialami Sadman a.k.a  Orkes Man, karakter mencolok dalam novel ini pun pernah dialami Andrea  sendiri dan grup musiknya, termasuk dilempari penonton dengan sandal  cunghai.

Melalui kisah Brianna dan Bottomwise, Andrea Hirata berharap  ceritanya dapat mengedukasi pembaca dan menginspirasi para penulis muda  lainnya. Kini, novel Brianna dan Bottomwise sudah resmi diterbitkan  sejak bulan Juli 2022.
</content:encoded></item></channel></rss>
