<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Hari Film Nasional, Pentingkah Pendidikan Formal Film di Indonesia?</title><description>Di tengah pandemi Corona ini, Indonesian Film Directors Club menggelar acara live streaming online untuk merayakan Hari Film Nasional.</description><link>https://celebrity.okezone.com/read/2020/03/30/206/2191227/hari-film-nasional-pentingkah-pendidikan-formal-film-di-indonesia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://celebrity.okezone.com/read/2020/03/30/206/2191227/hari-film-nasional-pentingkah-pendidikan-formal-film-di-indonesia"/><item><title>Hari Film Nasional, Pentingkah Pendidikan Formal Film di Indonesia?</title><link>https://celebrity.okezone.com/read/2020/03/30/206/2191227/hari-film-nasional-pentingkah-pendidikan-formal-film-di-indonesia</link><guid isPermaLink="false">https://celebrity.okezone.com/read/2020/03/30/206/2191227/hari-film-nasional-pentingkah-pendidikan-formal-film-di-indonesia</guid><pubDate>Senin 30 Maret 2020 15:00 WIB</pubDate><dc:creator>Ady Prawira Riandi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/03/30/206/2191227/hari-film-nasional-pentingkah-pendidikan-formal-film-di-indonesia-C1U1NAu1Pl.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Indonesian Film Directors Club (Foto: IG IFDClub)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/03/30/206/2191227/hari-film-nasional-pentingkah-pendidikan-formal-film-di-indonesia-C1U1NAu1Pl.jpg</image><title>Indonesian Film Directors Club (Foto: IG IFDClub)</title></images><description>JAKARTA - Di tengah pandemi Corona ini, Indonesian Film Directors Club menggelar acara live streaming online untuk merayakan Hari Film Nasional yang jatuh pada hari ini, Senin (30/3/2020). Lukman Sardi menjadi pemandu acara dengan bintang tamu deretan sutradara Indonesia seperti Garin Nugroho, Upi, Nia Dinata, Joko Anwar, Hanung Bramantyo, dan Riri Riza.

Obrolan menarik terjadi di antara ketujuhnya. Tak hanya berbagi cerita soal pengalaman menjadi seorang sutradara, para narasumber ini juga mengulas tentang pentingkah pendidikan formal film bagi orang-orang yang ingin berkecimpung di industri film.

Baca Juga:
Maia Estianty Akhirnya Kembali ke Pelukan Suami
Pertama Kali Bertemu Hiu Paus, Raline Shah Kaget



Pembahasan ini ternyata membuka ruang diskusi yang cukup lebar. Setiap narasumber memiliki pandangannya masing-masing terhadap pentingnya pendidikan formal dalam kariernya sebagai filmmaker.

Nia Dinata mengatakan bahwa pendidikan formal tidak penting sebab pada zamannya ia kesulitan menemukan jalur pendidikan film yang berkualitas.

&quot;Maksudnya sekarang kan penyebaran informasi sudah canggih, kamera seperti tadi Joko bilang bisa latihan dari handphone, gak perlu mengkhayal sendiri. Sekarang budaya mentoring juga udah menjadi budaya bagus karena banyak sekali yang rela meluangkan waktu asal anaknya mau belajar,&quot; kata Nia.


Sementara itu Hanung Bramantyo berkata lain. Sutradara film Ayat-ayat  Cinta ini menilai bahwa pendidikan formal film bisa membantu seseorang  menjadi lebih siap ketika terjun ke lapangan.

&quot;Pas saya masuk IKJ saya merasakan ada manfaatnya yaitu saya  diperkenalkan teknologi di mana pada saat itu alat-alat sangat mahal.  Karena pas saya jadi sutradara saya merasakan kalau saya gak tahu lensa  dan kamera saya tidak bisa berkomunikasi secara equal dengan kameraman  dan lainnya,&quot; ujar Hanung.

Baca Juga:
Maia Estianty Akhirnya Kembali ke Pelukan Suami
Pertama Kali Bertemu Hiu Paus, Raline Shah Kaget
Senada dengan Hanung Bramantyo, Joko Anwar pun menyarankan agar  orang-orang yang ingin terlibat dalam industri memanfaatkan adanya  sekolah film. Hal itu tentunya bisa membuat mereka menjadi lebih siap  ketika suatu saat nanti bekerja di dalam industrinya.

&quot;Kalau gue juga berpikir sekolah film tentunya secara tradisional  kalau misalnya punya kesempatan ya gak ada salahnya karena kita bisa  belajar teratur, pembekalannya lebih lengkap. Mungkin itu membuat orang  bisa terbantu,&quot; tutupnya.
</description><content:encoded>JAKARTA - Di tengah pandemi Corona ini, Indonesian Film Directors Club menggelar acara live streaming online untuk merayakan Hari Film Nasional yang jatuh pada hari ini, Senin (30/3/2020). Lukman Sardi menjadi pemandu acara dengan bintang tamu deretan sutradara Indonesia seperti Garin Nugroho, Upi, Nia Dinata, Joko Anwar, Hanung Bramantyo, dan Riri Riza.

Obrolan menarik terjadi di antara ketujuhnya. Tak hanya berbagi cerita soal pengalaman menjadi seorang sutradara, para narasumber ini juga mengulas tentang pentingkah pendidikan formal film bagi orang-orang yang ingin berkecimpung di industri film.

Baca Juga:
Maia Estianty Akhirnya Kembali ke Pelukan Suami
Pertama Kali Bertemu Hiu Paus, Raline Shah Kaget



Pembahasan ini ternyata membuka ruang diskusi yang cukup lebar. Setiap narasumber memiliki pandangannya masing-masing terhadap pentingnya pendidikan formal dalam kariernya sebagai filmmaker.

Nia Dinata mengatakan bahwa pendidikan formal tidak penting sebab pada zamannya ia kesulitan menemukan jalur pendidikan film yang berkualitas.

&quot;Maksudnya sekarang kan penyebaran informasi sudah canggih, kamera seperti tadi Joko bilang bisa latihan dari handphone, gak perlu mengkhayal sendiri. Sekarang budaya mentoring juga udah menjadi budaya bagus karena banyak sekali yang rela meluangkan waktu asal anaknya mau belajar,&quot; kata Nia.


Sementara itu Hanung Bramantyo berkata lain. Sutradara film Ayat-ayat  Cinta ini menilai bahwa pendidikan formal film bisa membantu seseorang  menjadi lebih siap ketika terjun ke lapangan.

&quot;Pas saya masuk IKJ saya merasakan ada manfaatnya yaitu saya  diperkenalkan teknologi di mana pada saat itu alat-alat sangat mahal.  Karena pas saya jadi sutradara saya merasakan kalau saya gak tahu lensa  dan kamera saya tidak bisa berkomunikasi secara equal dengan kameraman  dan lainnya,&quot; ujar Hanung.

Baca Juga:
Maia Estianty Akhirnya Kembali ke Pelukan Suami
Pertama Kali Bertemu Hiu Paus, Raline Shah Kaget
Senada dengan Hanung Bramantyo, Joko Anwar pun menyarankan agar  orang-orang yang ingin terlibat dalam industri memanfaatkan adanya  sekolah film. Hal itu tentunya bisa membuat mereka menjadi lebih siap  ketika suatu saat nanti bekerja di dalam industrinya.

&quot;Kalau gue juga berpikir sekolah film tentunya secara tradisional  kalau misalnya punya kesempatan ya gak ada salahnya karena kita bisa  belajar teratur, pembekalannya lebih lengkap. Mungkin itu membuat orang  bisa terbantu,&quot; tutupnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
