<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pramoedya Ananta Toer, Sastrawan yang Tak Dihargai di Negeri Sendiri</title><description>Pramoedya sendiri pernah mengatakan bagaimana ia merasa tak dihargai di negeri sendiri.</description><link>https://celebrity.okezone.com/read/2019/08/11/33/2090413/pramoedya-ananta-toer-sastrawan-yang-tak-dihargai-di-negeri-sendiri</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://celebrity.okezone.com/read/2019/08/11/33/2090413/pramoedya-ananta-toer-sastrawan-yang-tak-dihargai-di-negeri-sendiri"/><item><title>Pramoedya Ananta Toer, Sastrawan yang Tak Dihargai di Negeri Sendiri</title><link>https://celebrity.okezone.com/read/2019/08/11/33/2090413/pramoedya-ananta-toer-sastrawan-yang-tak-dihargai-di-negeri-sendiri</link><guid isPermaLink="false">https://celebrity.okezone.com/read/2019/08/11/33/2090413/pramoedya-ananta-toer-sastrawan-yang-tak-dihargai-di-negeri-sendiri</guid><pubDate>Minggu 11 Agustus 2019 08:04 WIB</pubDate><dc:creator>Vania Ika Aldida</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/08/11/33/2090413/pramoedya-ananta-toer-sastrawan-yang-tak-dihargai-di-negeri-sendiri-4LCrimgQQb.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Pramoedya Ananta Toer (Foto: Ilustrasi Feri Usmawan/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/08/11/33/2090413/pramoedya-ananta-toer-sastrawan-yang-tak-dihargai-di-negeri-sendiri-4LCrimgQQb.jpeg</image><title>Pramoedya Ananta Toer (Foto: Ilustrasi Feri Usmawan/Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Pramoedya Ananta Toer merupakan satu-satunya sastrawan Indonesia yang berhasil mendapatkan nominasi Nobel Sastra sebanyak enam kali. Karya-karyanya yang tergabung dalam Tretalogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca) membuatnya dikenal hingga ke kancah internasional.
Baca Juga: Kisah Pramoedya Ananta Toer Jelang Akhir Hayat
Enam kali menjadi nominasi Nobel Sastra, rupanya tak ada satu pun piala yang berhasil ia bawa pulang. Bergabungnya Pram dalam Lekra menjadi salah satu alasan dirinya tak sampai bisa meraih satupun Nobel Sastra.

Meski begitu, Pram tetap berhasil menjadi sastrawan Indonesia yang mendapatkan puluhan penghargaan internasional. Sebut saja, Freedom to Write Award dari PEN American Center, AS (1988), Penghargaan dari The Fund for Free Expression, New York, AS (1989), hingga Centenario Pablo Neruda, Chili (2004).

Bukan hanya itu, di 1995, Pram pun pernah mendapatkan hadiah berupa medali dari Filipina. Kala itu ia mendapatkan medali bergambar wajah Presiden ketiga Filipina, Ramon Magsaysay, serta uang sebanyak USD 50.000.Keberhasilan Pram rupanya membuat sekitar 26 sastrawan dan budayawan protes dengan penghargaan tersebut. Bahkan, Yayasan Ramon Magsaysay dianggap mengabaikan dosa politik Pram, dimana ia tergabung dalam Lekra, organisasi yang berada di bawah naungan Partai Komunis Indonesia (PKI).
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8xMS8xNC82LzExNzI4NS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Protes pada penganugerahan Magsaysay sendiri diketahui dipimpin oleh Taufiq Ismail dan Muchtar Lubis. Sejumlah sastrawan dan budayawan yang dikabarkan ikut dalam penandatanganan protestersebut antara lain HB Jassin, Ali Hasjmi, Wiratmo Soekito, Asrul Sani, Bokor Hutasuhut, DS Moeljanto, WS Rendra, Leon Agusta, Misbach Jusa Biran, Amak Baljun, Chairul Umam, Mochtar Pabotinggi, Abdul Rahman Saleh, Lukman Ali, Danarto, Rahmat Djoko Pradopo, Ikranegara, Slamet Sukrinanto, Syu'bah Asa, hingga SM Ardan.
Baca Juga: Anak Sering Rewel Jelang Maghrib, Sarwendah Panggil Ustadz ke Rumah
Atas perlakuan yang didapatnya, Pram sempat merasa tak dihormati dan dihargai di negara sendiri. Bahkan ia sempat mengatakan, &quot;Karya saya sudah diterjemahkan ke dalam 36 bahasa, tapi saya tidak pernah dihargai di dalam negeri Indonesia.&quot;</description><content:encoded>JAKARTA - Pramoedya Ananta Toer merupakan satu-satunya sastrawan Indonesia yang berhasil mendapatkan nominasi Nobel Sastra sebanyak enam kali. Karya-karyanya yang tergabung dalam Tretalogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca) membuatnya dikenal hingga ke kancah internasional.
Baca Juga: Kisah Pramoedya Ananta Toer Jelang Akhir Hayat
Enam kali menjadi nominasi Nobel Sastra, rupanya tak ada satu pun piala yang berhasil ia bawa pulang. Bergabungnya Pram dalam Lekra menjadi salah satu alasan dirinya tak sampai bisa meraih satupun Nobel Sastra.

Meski begitu, Pram tetap berhasil menjadi sastrawan Indonesia yang mendapatkan puluhan penghargaan internasional. Sebut saja, Freedom to Write Award dari PEN American Center, AS (1988), Penghargaan dari The Fund for Free Expression, New York, AS (1989), hingga Centenario Pablo Neruda, Chili (2004).

Bukan hanya itu, di 1995, Pram pun pernah mendapatkan hadiah berupa medali dari Filipina. Kala itu ia mendapatkan medali bergambar wajah Presiden ketiga Filipina, Ramon Magsaysay, serta uang sebanyak USD 50.000.Keberhasilan Pram rupanya membuat sekitar 26 sastrawan dan budayawan protes dengan penghargaan tersebut. Bahkan, Yayasan Ramon Magsaysay dianggap mengabaikan dosa politik Pram, dimana ia tergabung dalam Lekra, organisasi yang berada di bawah naungan Partai Komunis Indonesia (PKI).
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8xMS8xNC82LzExNzI4NS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Protes pada penganugerahan Magsaysay sendiri diketahui dipimpin oleh Taufiq Ismail dan Muchtar Lubis. Sejumlah sastrawan dan budayawan yang dikabarkan ikut dalam penandatanganan protestersebut antara lain HB Jassin, Ali Hasjmi, Wiratmo Soekito, Asrul Sani, Bokor Hutasuhut, DS Moeljanto, WS Rendra, Leon Agusta, Misbach Jusa Biran, Amak Baljun, Chairul Umam, Mochtar Pabotinggi, Abdul Rahman Saleh, Lukman Ali, Danarto, Rahmat Djoko Pradopo, Ikranegara, Slamet Sukrinanto, Syu'bah Asa, hingga SM Ardan.
Baca Juga: Anak Sering Rewel Jelang Maghrib, Sarwendah Panggil Ustadz ke Rumah
Atas perlakuan yang didapatnya, Pram sempat merasa tak dihormati dan dihargai di negara sendiri. Bahkan ia sempat mengatakan, &quot;Karya saya sudah diterjemahkan ke dalam 36 bahasa, tapi saya tidak pernah dihargai di dalam negeri Indonesia.&quot;</content:encoded></item></channel></rss>
