<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Dari Balik Penjara, Pramoedya Ananta Toer Tetap Berkarya</title><description>Penjara tak mampu menjegal langkah Pramoedya Ananta Toer untuk berkarya. Dari penjara, dia menghasilkan Bumi Manusia dan Perburuan.&amp;nbsp;</description><link>https://celebrity.okezone.com/read/2019/08/09/33/2090058/dari-balik-penjara-pramoedya-ananta-toer-tetap-berkarya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://celebrity.okezone.com/read/2019/08/09/33/2090058/dari-balik-penjara-pramoedya-ananta-toer-tetap-berkarya"/><item><title>Dari Balik Penjara, Pramoedya Ananta Toer Tetap Berkarya</title><link>https://celebrity.okezone.com/read/2019/08/09/33/2090058/dari-balik-penjara-pramoedya-ananta-toer-tetap-berkarya</link><guid isPermaLink="false">https://celebrity.okezone.com/read/2019/08/09/33/2090058/dari-balik-penjara-pramoedya-ananta-toer-tetap-berkarya</guid><pubDate>Sabtu 10 Agustus 2019 11:10 WIB</pubDate><dc:creator>Hana Futari</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/08/09/33/2090058/dari-balik-penjara-pramoedya-ananta-toer-tetap-berkarya-CERKrJ5KEY.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pramoedya Ananta Toer. (Ilustrasi: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/08/09/33/2090058/dari-balik-penjara-pramoedya-ananta-toer-tetap-berkarya-CERKrJ5KEY.jpg</image><title>Pramoedya Ananta Toer. (Ilustrasi: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Pramoedya Ananta Toer dapat dikatakan begitu akrab dengan penjara. Sepanjang hidupnya, dia sempat ditahan sebanyak tiga kali.
Berbagai alasan berbeda mengantarkan Pram ke dalam penjara. Dia sempat dituding sebagai bagian dari pejuang kemerdekaan hingga karyanya dianggap bermasalah.

Baca juga:&amp;nbsp;Takut Dipenjara, Iwan Fals Baca Bumi Manusia Sembunyi-Sembunyi&amp;nbsp;
LP Bukit Duri yang berlokasi di tepi Kali Ciliwung, Jatinegara, Jakarta merupakan penjara pertama untuk Pramoedya Ananta Toer. Dia diamankan pada 1947 karena dianggap bagian dari tentara pejuang Indonesia.
Sekitar 2 tahun kemudian, Pram dibebaskan. Namun 11 tahun setelahnya, dia kembali merasakan dinginnya tembok penjara akibat buku Hoakiao yang ditulisnya dianggap anti-Tionghoa.
Pram mendekam di Rumah Tahanan Militer selama 2 bulan, hingga akhirnya dipindahkan ke LP Cipinang pada 1961. Setelah bebas, dia kembali dijebloskan ke penjara sekitar 13 hari setelah insiden Gerakan 30 September 1965.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8xMS8xNC82LzExNzI4Ny8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Baca juga:&amp;nbsp;September 2019, Gundala Tayang di Festival Film Toronto&amp;nbsp;
Pasalnya, kala itu Pram berstatus sebagai redaktur surat kabar Bintang Timur yang dianggap dekat dengan paham Komunis. Di Pulau Buru, dia dipenjara selama hampir 10 tahun.
Berada di balik penjara tak membuat Pram berhenti menulis. Saat berada di LP Bukit Duri, dia menghasilkan tulisan Perburuan yang disimpan oleh GJ Resink. Di Pulau Buru, dia juga dilarang menulis selama 4 tahun.
&amp;nbsp;
Baru pada 1973, dia kembali diizinkan menulis. Di sanalah novel Bumi Manusia lahir. Novel itu pertama kali diterbitkan Hasta Mitra pada 1980 dan terbilang sukses di pasaran dengan 10 kali pencetakan ulang.*
</description><content:encoded>JAKARTA - Pramoedya Ananta Toer dapat dikatakan begitu akrab dengan penjara. Sepanjang hidupnya, dia sempat ditahan sebanyak tiga kali.
Berbagai alasan berbeda mengantarkan Pram ke dalam penjara. Dia sempat dituding sebagai bagian dari pejuang kemerdekaan hingga karyanya dianggap bermasalah.

Baca juga:&amp;nbsp;Takut Dipenjara, Iwan Fals Baca Bumi Manusia Sembunyi-Sembunyi&amp;nbsp;
LP Bukit Duri yang berlokasi di tepi Kali Ciliwung, Jatinegara, Jakarta merupakan penjara pertama untuk Pramoedya Ananta Toer. Dia diamankan pada 1947 karena dianggap bagian dari tentara pejuang Indonesia.
Sekitar 2 tahun kemudian, Pram dibebaskan. Namun 11 tahun setelahnya, dia kembali merasakan dinginnya tembok penjara akibat buku Hoakiao yang ditulisnya dianggap anti-Tionghoa.
Pram mendekam di Rumah Tahanan Militer selama 2 bulan, hingga akhirnya dipindahkan ke LP Cipinang pada 1961. Setelah bebas, dia kembali dijebloskan ke penjara sekitar 13 hari setelah insiden Gerakan 30 September 1965.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8xMS8xNC82LzExNzI4Ny8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Baca juga:&amp;nbsp;September 2019, Gundala Tayang di Festival Film Toronto&amp;nbsp;
Pasalnya, kala itu Pram berstatus sebagai redaktur surat kabar Bintang Timur yang dianggap dekat dengan paham Komunis. Di Pulau Buru, dia dipenjara selama hampir 10 tahun.
Berada di balik penjara tak membuat Pram berhenti menulis. Saat berada di LP Bukit Duri, dia menghasilkan tulisan Perburuan yang disimpan oleh GJ Resink. Di Pulau Buru, dia juga dilarang menulis selama 4 tahun.
&amp;nbsp;
Baru pada 1973, dia kembali diizinkan menulis. Di sanalah novel Bumi Manusia lahir. Novel itu pertama kali diterbitkan Hasta Mitra pada 1980 dan terbilang sukses di pasaran dengan 10 kali pencetakan ulang.*
</content:encoded></item></channel></rss>
