<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pentas Celeng Oleng Ajak Kita Hindari Watak Celeng</title><description>Pentas Celeng Oleng seakan menyentil kondisi politik Tanah Air yang identik dengan isu etnis dan agama.</description><link>https://celebrity.okezone.com/read/2019/07/06/33/2075417/pentas-celeng-oleng-ajak-kita-hindari-watak-celeng</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://celebrity.okezone.com/read/2019/07/06/33/2075417/pentas-celeng-oleng-ajak-kita-hindari-watak-celeng"/><item><title>Pentas Celeng Oleng Ajak Kita Hindari Watak Celeng</title><link>https://celebrity.okezone.com/read/2019/07/06/33/2075417/pentas-celeng-oleng-ajak-kita-hindari-watak-celeng</link><guid isPermaLink="false">https://celebrity.okezone.com/read/2019/07/06/33/2075417/pentas-celeng-oleng-ajak-kita-hindari-watak-celeng</guid><pubDate>Sabtu 06 Juli 2019 12:52 WIB</pubDate><dc:creator>Gabriel Abdi Susanto</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/07/06/33/2075417/pentas-celeng-oleng-ajak-kita-hindari-watak-celeng-C0zuE0txfl.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pentas Celeng Oleng. (Foto: Anggoro Tri Wicaksono/Kayan Production)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/07/06/33/2075417/pentas-celeng-oleng-ajak-kita-hindari-watak-celeng-C0zuE0txfl.jpg</image><title>Pentas Celeng Oleng. (Foto: Anggoro Tri Wicaksono/Kayan Production)</title></images><description>JAKARTA - Suatu saat masyarakat di dua kawasan: Kampung Katab (Batak) dan Kampung Awaj (Jawa) geger. Kabar beredar, ada babi hutan alias celeng yang mengganggu ketentraman warga.
Karena meresahkan, masyarakat dipimpin ketua RT (Marwoto) mencoba memburu si celeng. Saking susahnya, pak RT berupaya mencari tahu dari roh leluhur bagaimana cara mengusir celeng.
&amp;lt;iframe width=&quot;560&quot; height=&quot;315&quot; src=&quot;https://www.youtube.com/embed/mz7N2G-UaGc&quot; frameborder=&quot;0&quot; allow=&quot;accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;
Baca juga: Selain Bernyanyi, Shae Tunjukkan Kemampuan Lewat Bermain Teater
Singkat cerita, ketahuan ternyata celeng yang sempat mabuk (oleng) ternyata merupakan isu murahan, kabar jadi-jadian yang diembuskan RT untuk menumbalkan seseorang (agar pergi dari kampung) dan mendapatkan harta karunnya.
Pentas Celeng Oleng yang berlangsung kurang lebih 4 jam pada 5-6 Juli 2019 itu mengajak masyarakat untuk merefleksikan kembali perjalanan yang dialami selama ini.
Dengan mementaskan lakon Celeng Oleng -pentas ke-32 yang didukung Bakti Budaya Djarum Foundation- kita seolah diajak untuk melihat diri dan masyarakat yang masih memiliki kecenderungan bertikai dan bersilang pendapat atas alasan perbedaan, terutama dalam hal etnis dan agama.

Butet Kartaredjasa sang produser acara ini menyebutkan, celeng merupakan simbol kerakusan, ketamakan, semena-mena, perilaku srudak-sruduk asal gasak, menafikan aturan dan hukum.
&quot;Kita menyadari watak celeng bukan monopoli sebuah zaman. Ia bisa hadir setiap saat. Rezim boleh berganti, tapi nyatanya celeng-celeng senantiasa mewarnai kehidupan.&quot;ujar Butet.
Menurut Butet, yang tak bakal berubah watak celeng tetap menjadi musuh utama demokrasi yang memuliakan asas keberimbangan, tata krama, keadilan dan kemanusiaan.

Baca juga: Gara-Gara Istri, Bambang Pamungkas Ketagihan Main TeaterKetika perkembangan politik akhir-akhir ini ikut menyeret isu-isu etnis dan agama, kita sebaiknya melakukan introspeksi apakah kebhinekaan negara kita tercinta masih menjadi kekuatan dan keistimewaan sebagai bangsa yang berdaulat? Haruskah keanekaragaman yang kita miliki hancur karena proses belajar berdemokrasi?

Dalam konteks Indonesia hari ini, kata Butet, mungkin kita merasakan bagaimana watak celeng menjelma dalam perilaku politik dan mewarnai media sosial sebagai meme yang jenaka atau ujaran kebencian dan pemutarbalikan fakta alias fitnah.
&quot;Di sinilah kita mesti merenung kembali keindonesiaan kita seperti diimpikan leluhur bangsa. Lahirnya Indonesia disepakati justru karena tidak main mutlak-mutlakan dan&amp;nbsp;srudak-sruduk&amp;nbsp;kayak celeng. Indonesia itu sebuah kompromi, masyarakat dengan beragam budaya. Indonesia harus menolak watak celeng.&quot;tegas Butet.</description><content:encoded>JAKARTA - Suatu saat masyarakat di dua kawasan: Kampung Katab (Batak) dan Kampung Awaj (Jawa) geger. Kabar beredar, ada babi hutan alias celeng yang mengganggu ketentraman warga.
Karena meresahkan, masyarakat dipimpin ketua RT (Marwoto) mencoba memburu si celeng. Saking susahnya, pak RT berupaya mencari tahu dari roh leluhur bagaimana cara mengusir celeng.
&amp;lt;iframe width=&quot;560&quot; height=&quot;315&quot; src=&quot;https://www.youtube.com/embed/mz7N2G-UaGc&quot; frameborder=&quot;0&quot; allow=&quot;accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;
Baca juga: Selain Bernyanyi, Shae Tunjukkan Kemampuan Lewat Bermain Teater
Singkat cerita, ketahuan ternyata celeng yang sempat mabuk (oleng) ternyata merupakan isu murahan, kabar jadi-jadian yang diembuskan RT untuk menumbalkan seseorang (agar pergi dari kampung) dan mendapatkan harta karunnya.
Pentas Celeng Oleng yang berlangsung kurang lebih 4 jam pada 5-6 Juli 2019 itu mengajak masyarakat untuk merefleksikan kembali perjalanan yang dialami selama ini.
Dengan mementaskan lakon Celeng Oleng -pentas ke-32 yang didukung Bakti Budaya Djarum Foundation- kita seolah diajak untuk melihat diri dan masyarakat yang masih memiliki kecenderungan bertikai dan bersilang pendapat atas alasan perbedaan, terutama dalam hal etnis dan agama.

Butet Kartaredjasa sang produser acara ini menyebutkan, celeng merupakan simbol kerakusan, ketamakan, semena-mena, perilaku srudak-sruduk asal gasak, menafikan aturan dan hukum.
&quot;Kita menyadari watak celeng bukan monopoli sebuah zaman. Ia bisa hadir setiap saat. Rezim boleh berganti, tapi nyatanya celeng-celeng senantiasa mewarnai kehidupan.&quot;ujar Butet.
Menurut Butet, yang tak bakal berubah watak celeng tetap menjadi musuh utama demokrasi yang memuliakan asas keberimbangan, tata krama, keadilan dan kemanusiaan.

Baca juga: Gara-Gara Istri, Bambang Pamungkas Ketagihan Main TeaterKetika perkembangan politik akhir-akhir ini ikut menyeret isu-isu etnis dan agama, kita sebaiknya melakukan introspeksi apakah kebhinekaan negara kita tercinta masih menjadi kekuatan dan keistimewaan sebagai bangsa yang berdaulat? Haruskah keanekaragaman yang kita miliki hancur karena proses belajar berdemokrasi?

Dalam konteks Indonesia hari ini, kata Butet, mungkin kita merasakan bagaimana watak celeng menjelma dalam perilaku politik dan mewarnai media sosial sebagai meme yang jenaka atau ujaran kebencian dan pemutarbalikan fakta alias fitnah.
&quot;Di sinilah kita mesti merenung kembali keindonesiaan kita seperti diimpikan leluhur bangsa. Lahirnya Indonesia disepakati justru karena tidak main mutlak-mutlakan dan&amp;nbsp;srudak-sruduk&amp;nbsp;kayak celeng. Indonesia itu sebuah kompromi, masyarakat dengan beragam budaya. Indonesia harus menolak watak celeng.&quot;tegas Butet.</content:encoded></item></channel></rss>
