<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Busana Seksi Female DJ Bukan Budaya, Tapi....</title><description>Kehidupan malam menampilkan orang-orang yang hadir mengenakan pakaian yang terbuka dan minim, female DJ pun identik dengan pakaian seksi.&amp;nbsp;</description><link>https://celebrity.okezone.com/read/2019/01/25/33/2009513/busana-seksi-female-dj-bukan-budaya-tapi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://celebrity.okezone.com/read/2019/01/25/33/2009513/busana-seksi-female-dj-bukan-budaya-tapi"/><item><title>Busana Seksi Female DJ Bukan Budaya, Tapi....</title><link>https://celebrity.okezone.com/read/2019/01/25/33/2009513/busana-seksi-female-dj-bukan-budaya-tapi</link><guid isPermaLink="false">https://celebrity.okezone.com/read/2019/01/25/33/2009513/busana-seksi-female-dj-bukan-budaya-tapi</guid><pubDate>Sabtu 26 Januari 2019 14:08 WIB</pubDate><dc:creator>Annisa Aprilia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/01/25/33/2009513/busana-seksi-female-dj-bukan-budaya-tapi-ZRG4hoGFbD.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Female DJ. (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/01/25/33/2009513/busana-seksi-female-dj-bukan-budaya-tapi-ZRG4hoGFbD.jpg</image><title>Ilustrasi Female DJ. (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Sebuah kota metropolitan biasanya dapat dengan mudah ditemui lokasi-lokasi hiburan malam. Bar, pub, atau diskotek hadir sebagai salah satu sarana hiburan bagi mereka yang menyenangi kehidupan malam.
Kehadiran tempat-tempat kehidupan malam ini biasanya menimbulkan masalah sosial lainnya, seperti minum-minuman beralkohol, pengonsumsian narkoba, hingga seks bebas atau one night stand. Ternyata, menurut Prof. Dr. Bagong Suyanto, M.Si, kehadiran hiburan malam ada akibat dari kota yang semakin maju.
Baca Juga: Ananda Omesh Jalani Pengobatan di Singapura, Kenapa?
Baca Juga: Nia Ramadhani &amp;amp; Iqbaal Ramadhan Foto Bareng, Netizen: Pantas Jadi Pacarnya

Uniknya lagi, kehidupan malam atau yang Profesor Bagong sebut dunia remang-remang tidak akan pernah hilang. Bahkan dapat menjadi situasi yang tidak bisa terhindarkan.
&amp;ldquo;Yang namanya dunia remang-remang enggak pernah hilang. Jadi, kalau kota semakin maju biasanya implikasinya memang muncul dunia remang-remang. Entah itu diskotek, entah itu bar, juga prostitusi terselubung, jadi itu situasi yang tidak terhindarkan,&amp;rdquo; jelas Prof. Dr. Bagong Suyanto, M.Si, pada Okezone ketika dihubungi lewat sambungan telepon, Jakarta, Jumat (25/1/2019).
Tak cukup sampai di situ saja, biasanya kehidupan malam yang sudah diketahui banyak orang, menampilkan orang-orang yang hadir mengenakan pakaian yang terbuka dan minim, female DJ pun identik dengan pakaian seksi. Hal tersebut juga disepakati oleh Profesor Bagong dan memang keduanya identik.
Namun, meski kehidupan malam kerap menampilkan orang-orang yang mengenakan pakaian minim, sayangnya bukanlah bentuk dari sebuah budaya. Menurut Profesor Bagong, antara kehidupan malam dengan pakaian yang terbuka atau minim tidak ada kaitannya.
&amp;ldquo;Soal kehidupan malam yang identik dengan para perempuan yang mengenakan pakaian minim, saya kira bukan soal budaya, kita dari dulu bahkan bertelanjang dada, kalau ngomong di suatu daerah kan sudah biasa, ini enggak ada kaitannya dengan budaya,&amp;rdquo; ujarnya.
&amp;ldquo;Tapi memang dimanapun ketika muncul dunia remang-remang itu standar moralitas yang berlaku memang berbeda, biasanya lebih terbuka, ya mungkin di sana juga identik dengan alkohol membuat orang lebih ekspresif, itu semua konsekuensi yang tidak terhindarkan dari kota yang semakin besar sementara ya kontrol pada aktivitas seperti itu kurang dan belum memadai,&amp;rdquo; pungkasnya. (aln)</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Sebuah kota metropolitan biasanya dapat dengan mudah ditemui lokasi-lokasi hiburan malam. Bar, pub, atau diskotek hadir sebagai salah satu sarana hiburan bagi mereka yang menyenangi kehidupan malam.
Kehadiran tempat-tempat kehidupan malam ini biasanya menimbulkan masalah sosial lainnya, seperti minum-minuman beralkohol, pengonsumsian narkoba, hingga seks bebas atau one night stand. Ternyata, menurut Prof. Dr. Bagong Suyanto, M.Si, kehadiran hiburan malam ada akibat dari kota yang semakin maju.
Baca Juga: Ananda Omesh Jalani Pengobatan di Singapura, Kenapa?
Baca Juga: Nia Ramadhani &amp;amp; Iqbaal Ramadhan Foto Bareng, Netizen: Pantas Jadi Pacarnya

Uniknya lagi, kehidupan malam atau yang Profesor Bagong sebut dunia remang-remang tidak akan pernah hilang. Bahkan dapat menjadi situasi yang tidak bisa terhindarkan.
&amp;ldquo;Yang namanya dunia remang-remang enggak pernah hilang. Jadi, kalau kota semakin maju biasanya implikasinya memang muncul dunia remang-remang. Entah itu diskotek, entah itu bar, juga prostitusi terselubung, jadi itu situasi yang tidak terhindarkan,&amp;rdquo; jelas Prof. Dr. Bagong Suyanto, M.Si, pada Okezone ketika dihubungi lewat sambungan telepon, Jakarta, Jumat (25/1/2019).
Tak cukup sampai di situ saja, biasanya kehidupan malam yang sudah diketahui banyak orang, menampilkan orang-orang yang hadir mengenakan pakaian yang terbuka dan minim, female DJ pun identik dengan pakaian seksi. Hal tersebut juga disepakati oleh Profesor Bagong dan memang keduanya identik.
Namun, meski kehidupan malam kerap menampilkan orang-orang yang mengenakan pakaian minim, sayangnya bukanlah bentuk dari sebuah budaya. Menurut Profesor Bagong, antara kehidupan malam dengan pakaian yang terbuka atau minim tidak ada kaitannya.
&amp;ldquo;Soal kehidupan malam yang identik dengan para perempuan yang mengenakan pakaian minim, saya kira bukan soal budaya, kita dari dulu bahkan bertelanjang dada, kalau ngomong di suatu daerah kan sudah biasa, ini enggak ada kaitannya dengan budaya,&amp;rdquo; ujarnya.
&amp;ldquo;Tapi memang dimanapun ketika muncul dunia remang-remang itu standar moralitas yang berlaku memang berbeda, biasanya lebih terbuka, ya mungkin di sana juga identik dengan alkohol membuat orang lebih ekspresif, itu semua konsekuensi yang tidak terhindarkan dari kota yang semakin besar sementara ya kontrol pada aktivitas seperti itu kurang dan belum memadai,&amp;rdquo; pungkasnya. (aln)</content:encoded></item></channel></rss>
