<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Dari Wartawan sampai Pakar Kuliner, Ini Kehidupan Bondan Winarno Beserta Kariernya</title><description>Pakar kuliner &amp;ldquo;Pokoe maknyus!&amp;rdquo;  Bondan Winarno meninggal dunia Rabu (29/11/2017) pukul 09.05 WIB di RS  Harapan Kita Jakarta</description><link>https://celebrity.okezone.com/read/2017/11/29/33/1822620/dari-wartawan-sampai-pakar-kuliner-ini-kehidupan-bondan-winarno-beserta-kariernya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://celebrity.okezone.com/read/2017/11/29/33/1822620/dari-wartawan-sampai-pakar-kuliner-ini-kehidupan-bondan-winarno-beserta-kariernya"/><item><title>Dari Wartawan sampai Pakar Kuliner, Ini Kehidupan Bondan Winarno Beserta Kariernya</title><link>https://celebrity.okezone.com/read/2017/11/29/33/1822620/dari-wartawan-sampai-pakar-kuliner-ini-kehidupan-bondan-winarno-beserta-kariernya</link><guid isPermaLink="false">https://celebrity.okezone.com/read/2017/11/29/33/1822620/dari-wartawan-sampai-pakar-kuliner-ini-kehidupan-bondan-winarno-beserta-kariernya</guid><pubDate>Rabu 29 November 2017 16:42 WIB</pubDate><dc:creator>Dewanto Kironoputro</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/11/29/33/1822620/dari-wartawan-sampai-pakar-kuliner-ini-kehidupan-bondan-winarno-beserta-kariernya-5t4lm9JYbN.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Bondan Winarno (Foto: Heru/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/11/29/33/1822620/dari-wartawan-sampai-pakar-kuliner-ini-kehidupan-bondan-winarno-beserta-kariernya-5t4lm9JYbN.jpg</image><title>Bondan Winarno (Foto: Heru/Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Pakar kuliner &amp;ldquo;Pokoe maknyus!&amp;rdquo; Bondan Winarno meninggal dunia Rabu (29/11/2017) pukul 09.05 WIB di RS  Harapan Kita Jakarta. Kematiannya menghentikan perjalanan panjang karier  dan kontribusinya untuk negeri dan masyarakat.
Maka, wajar saja jika kematiannya membuat banyak  pihak sedih, bahkan bagi yang tidak berhubungan langsung dengannya.  Ucapan-ucapannya sering mengena di hati dengan pembawaannya yang kalem  nan ramah.
Baca Juga: Penuhi Keinginan Terakhir, Keluarga Siap Kremasi Jenazah Bondan Winarno
Tetapi, rupanya kehidupan Pak Bondan jauh lebih luas dari sekadar pakar kuliner, lho! Penasaran? yuk simak sekilas perjalanan hidupnya yang penuh lika-liku ini!
Pak Bondan lahir di Surabaya, 29 April 1950. Selama  bersekolah, ia aktif berkegiatan sebagai anggota Pramuka dan aktif  dalam bidang aeromodelling. Tapi, ibunya ingin Pak Bondan jadi  dokter atau insinyur. Maka, cowok yang nantinya menjadi pria tiga anak  ini berkuliah di Fakultas Teknik Jurusan Arsitektur Universitas  Diponegoro, Semarang.
Di tengah kuliah, Pak Bondan sudah membangun karier  sebagai jurnalis. Pak Bondan memulainya sebagai fotografer untuk Puspen  Hankam. Selepas itu pada 1970, Pak Bondan berpindah-pindah kerja di  bidang yang sama, dan bahkan sempat mendapat pekerjaan di Kenya, Afrika.  Pekerjaan di Kenya ini yang nantinya menjadi cerpen bertajuk Gazelle, yang memenangkan hadiah pertama lomba penulisan cerpen majalah Femina pada tahun 1984.
Menulis memang sudah jadi hobi Pak Bondan sejak  berusia 9-10 tahun, dan ini terus berjalan hingga tulisannya sudah  dimuat di banyak media cetak nasional hingga Asian Wall Street Journal. Tulisan yang  diciptakan Pak Bondan berkisar dalam tema cerita anak-anak, cerpen,  novel dan buku-buku tentang manajemen.
Hobi menulis membawa Pak Bondan menjadi redaktur  kepala majalah SWA pada 1984-1987. Lalu, ia menjadi konsultan untuk Bank  Dunia di Jakarta. Tak lama menyelesaikan kerjanya sebagai konsultan, ia  menjadi direktur eksekutif dari sebuah organisasi pelestarian  lingkungan. Pada 2001-2003 ia menjadi pemimpin redaksi harian Suara  Pembaruan.
Namun, namanya di bidang kuliner baru dimulai pada  1987 hingga 1994, saat Pak Bondan beralih menjadi pengusaha dan menjabat  sebagai Presiden Ocean Beauty International, sebuah perusahaan makanan  laut yang berbasis di Seattle Washington, Amerika Serikat. Dari sana,  namanya baru mulai dibangun sebagai seorang pakar kuliner hingga  membintangi acara Wisata Kuliner, yang meroketkan namanya dengan tagline khas berbunyi &amp;ldquo;Pokoe Maknyus!&amp;rdquo;. Namanya mulai dikenal di antara para chef, antara lain Sisca Soewitomo.
Usut punya usut, Pak Bondan disebut sudah sakit  sejak 2005. Di tahun itu, ia masih aktif memandu acara yang meroketkan  namanya itu. Namun, ia baru mengaku sakit di laman Facebook komunitas  Jalansutra, yaitu komunitas wisata boga yang ia rintis. Penyakitnya itu  berhubungan dengan jantung, dan sempat meminta maaf karena berita  penyakitnya itu baru diungkap. Sekira enam minggu sebelum meninggal  dunia, ia kembali mengaku tengah menjalani operasi lantaran katup  aortanya bocor yang berujung pada aritmia, atau degup jantung tak  beraturan.
&quot;Mohon maaf bila selama beberapa hari ini saya  menyembunyikan sebuah rahasia besar dari Anda semua. Saya ceritakan  sejak latar belakangnya,&quot; tulis Bondan.
Baca Juga:Sebelum Meninggal Dunia, Saksi Lihat Bondan 'Maknyus' Pakai Kursi Roda
Sampai saat ini, kabar terakhir yang diterima Okezone terkait dengan penyebab kematian Bondan adalah masalah irama jantung  atau aritmia. Kondisi tersebut pun belum dapat diketahui langsung sudah  sejak kapan ia derita.
Kabar kematian Pak Bondan disebarkan salah satu  rekan sekaligus pakar kuliner, Arie Parikesit. Berita yang ia sebarkan  melalui Twitter kemudian ia benarkan melalui sambungan chat WhatsApp  kepada awak media. Rencananya, jenazah akan dibawa ke rumah duka di  kawasan Sentul, Jawa Barat pada siang ini. Namun sampai saat ini, belum  ada informasi terkait pemakanan dari Bondan Winarno.
Selamat jalan Pak Bondan Winarno.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Pakar kuliner &amp;ldquo;Pokoe maknyus!&amp;rdquo; Bondan Winarno meninggal dunia Rabu (29/11/2017) pukul 09.05 WIB di RS  Harapan Kita Jakarta. Kematiannya menghentikan perjalanan panjang karier  dan kontribusinya untuk negeri dan masyarakat.
Maka, wajar saja jika kematiannya membuat banyak  pihak sedih, bahkan bagi yang tidak berhubungan langsung dengannya.  Ucapan-ucapannya sering mengena di hati dengan pembawaannya yang kalem  nan ramah.
Baca Juga: Penuhi Keinginan Terakhir, Keluarga Siap Kremasi Jenazah Bondan Winarno
Tetapi, rupanya kehidupan Pak Bondan jauh lebih luas dari sekadar pakar kuliner, lho! Penasaran? yuk simak sekilas perjalanan hidupnya yang penuh lika-liku ini!
Pak Bondan lahir di Surabaya, 29 April 1950. Selama  bersekolah, ia aktif berkegiatan sebagai anggota Pramuka dan aktif  dalam bidang aeromodelling. Tapi, ibunya ingin Pak Bondan jadi  dokter atau insinyur. Maka, cowok yang nantinya menjadi pria tiga anak  ini berkuliah di Fakultas Teknik Jurusan Arsitektur Universitas  Diponegoro, Semarang.
Di tengah kuliah, Pak Bondan sudah membangun karier  sebagai jurnalis. Pak Bondan memulainya sebagai fotografer untuk Puspen  Hankam. Selepas itu pada 1970, Pak Bondan berpindah-pindah kerja di  bidang yang sama, dan bahkan sempat mendapat pekerjaan di Kenya, Afrika.  Pekerjaan di Kenya ini yang nantinya menjadi cerpen bertajuk Gazelle, yang memenangkan hadiah pertama lomba penulisan cerpen majalah Femina pada tahun 1984.
Menulis memang sudah jadi hobi Pak Bondan sejak  berusia 9-10 tahun, dan ini terus berjalan hingga tulisannya sudah  dimuat di banyak media cetak nasional hingga Asian Wall Street Journal. Tulisan yang  diciptakan Pak Bondan berkisar dalam tema cerita anak-anak, cerpen,  novel dan buku-buku tentang manajemen.
Hobi menulis membawa Pak Bondan menjadi redaktur  kepala majalah SWA pada 1984-1987. Lalu, ia menjadi konsultan untuk Bank  Dunia di Jakarta. Tak lama menyelesaikan kerjanya sebagai konsultan, ia  menjadi direktur eksekutif dari sebuah organisasi pelestarian  lingkungan. Pada 2001-2003 ia menjadi pemimpin redaksi harian Suara  Pembaruan.
Namun, namanya di bidang kuliner baru dimulai pada  1987 hingga 1994, saat Pak Bondan beralih menjadi pengusaha dan menjabat  sebagai Presiden Ocean Beauty International, sebuah perusahaan makanan  laut yang berbasis di Seattle Washington, Amerika Serikat. Dari sana,  namanya baru mulai dibangun sebagai seorang pakar kuliner hingga  membintangi acara Wisata Kuliner, yang meroketkan namanya dengan tagline khas berbunyi &amp;ldquo;Pokoe Maknyus!&amp;rdquo;. Namanya mulai dikenal di antara para chef, antara lain Sisca Soewitomo.
Usut punya usut, Pak Bondan disebut sudah sakit  sejak 2005. Di tahun itu, ia masih aktif memandu acara yang meroketkan  namanya itu. Namun, ia baru mengaku sakit di laman Facebook komunitas  Jalansutra, yaitu komunitas wisata boga yang ia rintis. Penyakitnya itu  berhubungan dengan jantung, dan sempat meminta maaf karena berita  penyakitnya itu baru diungkap. Sekira enam minggu sebelum meninggal  dunia, ia kembali mengaku tengah menjalani operasi lantaran katup  aortanya bocor yang berujung pada aritmia, atau degup jantung tak  beraturan.
&quot;Mohon maaf bila selama beberapa hari ini saya  menyembunyikan sebuah rahasia besar dari Anda semua. Saya ceritakan  sejak latar belakangnya,&quot; tulis Bondan.
Baca Juga:Sebelum Meninggal Dunia, Saksi Lihat Bondan 'Maknyus' Pakai Kursi Roda
Sampai saat ini, kabar terakhir yang diterima Okezone terkait dengan penyebab kematian Bondan adalah masalah irama jantung  atau aritmia. Kondisi tersebut pun belum dapat diketahui langsung sudah  sejak kapan ia derita.
Kabar kematian Pak Bondan disebarkan salah satu  rekan sekaligus pakar kuliner, Arie Parikesit. Berita yang ia sebarkan  melalui Twitter kemudian ia benarkan melalui sambungan chat WhatsApp  kepada awak media. Rencananya, jenazah akan dibawa ke rumah duka di  kawasan Sentul, Jawa Barat pada siang ini. Namun sampai saat ini, belum  ada informasi terkait pemakanan dari Bondan Winarno.
Selamat jalan Pak Bondan Winarno.</content:encoded></item></channel></rss>
